Recent Posts

Thursday, September 08, 2005

Sidang dan Pabrik ITB

Akhir – akhir ini saya sering ikut sidang anak – anak TI (sidang tugas akhir maksudnya), ternyata mengikuit proses persidangan itu terkadang bisa begitu mengasikkan. Bukan melihat kegugupan para ‘terdakwa’ atau bagaimana dosen – dosen itu bertanya (yaa,kadang ada juga yang mebuat tercengang). Tapi lebih karena melihat kehebatan ilmu itu sendiri. Melihat bagaimana teman – teman yang lebih dahulu masuk benar – benar bisa menghasilkan sesuatu (terlepas apakah nantinya digunakan atau tidak). Ternyata ilmu bisa sedemikian mengagumkan.



Berada di jurusan Teknik Industri selama tiga tahun belum membuat saya yakin apa sebenarnya TI itu, apa artinya menjadi seorang lulusan TI nanti, atau bahkan apa yang bisa dilakukan seorang TI nantinya. Nah, mengikuti semua proses persidangan itu ternyata bisa memberikan suatu pencerahan juga.


Bicara mengenai tugas akhir, sebenarnya saya bingung akan hal itu (well, I should be), bingung tentang seperti apakah tugas akhir itu seharusnya. Dan melihat sidang Indri dan Achie menambah kebingungan saya. Kedua teman saya tersebut mengerjakan tugas akhir dengan menerapkan suatu metode pada permasalahan tertentu. Indri dengan penerapan Metoda Markowitz (metoda yang digunakan pada perhitungan penjualan saham) pada penjualan ekspor teh, dan Achie dengan metoda peramalan dan rantai markov untuk menentukan kebutuhan pegawai di PT KA.


Jujur, saya bingung.


Mengapa penerapan suatu model tertentu bisa menjadi TA. Seaneh apapun penerapannya (menerapkan model penjualan saham ke penjualan teh merupakan hal yang aneh buat saya sebelum saya tahu alasannya), secanggih dan sepusing apapun modelnya, pertanyaan saya tetap sama, TI-nya dimana??


Dan pertanyaan itu terjawab di sidangnya Arun (paruntungan) sang asisten LSIK. Di akhir sesi pertanyaan, setelah di’bantai’ oleh Bu Rajes dan Pa Yogi di sidang (TA-nya mengenai penerapan Data warehouse di PT KA), pa sukoyo, sang dosen pembimbing hanya memberikan satu pertanyaan, dia bertanya : ‘Menurut kamu, apa yang menjadikan TA kamu ini TA seorang anak TI dan bukan TA-nya anak Informatika?’. Nampaknya semua orang di ruangan itu langsung tertarik mendengar pertanyaan Pa Koyo dan memasang telinga sambil menunggu jawaban. Dan akhirnya, arun menjawab : ‘Di sistem analisnya Pak. Karena seorang TI menganalisa permasalahan dan kebutuhan sistem, kemudian dari solusinya dianalisis lagi apa pengaruhnya pada sistem, bukan cuma mengerjakan data warehousenya’. Suatu jawaban yang manis dan membuat semua orang berkata ‘Oh, iya ya..’ (hehe, i’m overreacting here).


Jawaban arun itu bukannya tidak pernah saya dengar, namun terkadang terlupakan (hehe,hampir selalu si). Terkadang saya lupa dengan hal ini dan lebih terlena dengan wah-nya metoda – metoda dan model yang ribet atau banyak cacingnya atau banyak sigmanya. Padahal semenjak masuk ke jurusan saya sudah diajarkan dengan 8 cara identifikasi masalah, siklus PDCA, 5W1H, Fishbone diagram, Pareto, scatter diagram de el el de el el (buat para asisten APK, berbanggalah). Dan sebenarnya itu adalah salah satu inti dari TI, yaitu bagaimana kita men-sense suatu masalah dan memberikan alternatif perbaikan pada sistem. Tapi tampaknya hal ini sering saya sepelekan. Karena secanggih apapun model atau metoda yang diterapkan jika model atau metoda tersebut tidak menjawab permasalahan maka sebenarnya model tersebut tidak berguna.


Terkadang hal ini membuat saya berpikir, berarti mungkin bagian yang paling penting dalam menyusun suatu penelitian adalah latar belakang dan perumusan masalah itu sendiri (ya ngga juga si, klo udah ketemu masalahnya tapi ga bisa nyari solusinya kan sama aja ga guna). Tapi hal ini yang kadang – kadang disepelekan oleh saya. Contohnya, pas bikin proposal atau bikin laporan atau apapun yang mengandung latar belakang biasanya saya berkata ‘ah, latar belakang mah poci – poci aja, ga usah dipikirin’, padahal kalau dipikir – pikir lagi, tanpa latar belakang yang jelas, buat apa juga proposal/laporan saya itu (hmm,menyedihkan nian nasib saya,kuliah 3 tahun di TI tapi ga nangkep dengan jelas hal ini).


Berbicara mengenai latar belakang dan perumusan masalah, ada satu tugas akhir yang mau saya acungi jempol (bukan berarti yang lainnya ngga). Tugas akhirnya Angga sang asisten LPOSI. Jujur, menurut saya perumusan masalahnya (termasuk memodelkan masalah dan latar belakangnya) sederhana tapi ‘ngena’, belum lagi melihat posisi penelitiannya, dia benar – benar memanfaatkan penelitian sebelum – sebelumnya, menunjukkan kehebatan ilmu itu sendiri yang terus berkembang. Melihat penelitian yang dihasilkan oleh seseorang saja sudah hebat, apalagi melihat bahwa ternyata penelitian yang dihasilkan oleh beberapa orang adalah suatu rangkaian ilmu yang luar biasa. Yah, semoga saja hasil – hasil penelitian itu bukan cuma tersimpan di lemari perpustakaan, tapi benar – benar digunakan. Bayangkan manfaat ratusan buku TA yang tersimpan di lemari perpus itu buat orang lain (duh,jadi pengen masuk Protek ;P)
Kembali lagi ke masalah TA dan sidang.
Ada suatu hal yang menggelitik yang menjadi pikiran saya akhir – akhir ini. Mengenai keputusan departemen yang ingin meningkatkan rata – rata waktu kelulusan dari 4 ½ tahun menjadi 4 tahun. Antara setuju dan tidak setuju.


Di satu sisi , terkadang saya melihat kebijakan dari departemen ini ada karena ketidakmampuan mahasiswa dalam mengurus dirinya sendiri. Kalu dilihat, dari penjelasan Pa Drajat pada saat pembekalan TA, sebenarnya memang benar TA itu bisa diselesaikan dengan waktu 1 semester. Waktu itu dia menunjukkan jadwal pengerjaan TA yang sangat terstruktur yang kalau dijalankan dengan baik maka TA itu semestinya bisa selesai dalam satu semester.
Menurut saya, penstrukturan ini harus bisa dilihat dan dilakukan oleh mahasiswa itu sendiri,lah yang punya kepentingan untuk menyusun TA kan mahasiswa. Nah, mungkin departemen mungkin merasa kesal akan mahasiswa yang ga mampu mengurus (menstrukturkan) dirinya sendiri dan menyusun TA, dan akhirnya ‘campur tangan’ dengan semua kebijakan itu. Mungkin beda ceritanya ketika kita bisa men’tertib’kan diri kita masing – masing hingga bisa lulus tepat waktu, pasti departemen tidak akan mengeluarkan kebijakan seperti itu, yaa kalau mahasiswanya udah bisa ngurus dirinya sendiri ngapain juga departemen ikut campur.


Tapi di sisi lain saya kesal. Kesal karena makin lama saya makin merasa menjadi suatu ‘produk’ yang sedang diproduksi oleh suatu pabrik bernama ITB. Keseluruhan proses di dalam institusi ini membuat saya berpikiran demikian.


Dari
-pemilihan ‘raw material’ yang berkualitas (dari supplier yang berkualitas tentunya),
-penjadwalan agar produk sampai tepat waktu ke tangan konsumen,
-sampai proses produksi untuk menghasilkan produk mahasiswa dengan spesifikasi tertentu
benar – benar membuat saya merasa menjadi suatu barang dagangan.


Tentunya jika ITB ini suatu pabrik, maka ITB harus memperhitungkan masalah – masalah mengenai:
-penanganan produk cacat,
-metoda – metoda pengendalian dan peningkatan kualitas dari produk,
-seberapa besar kapasitas produksi ITB,
-peningkatan produktivitas ITB (produktivitas adalah besarnya output per input persatuan waktu),
-pengadaan sumber daya (baik uang maupun raw material dari ‘supplier berkualitas’),
-atau bahkan cara memasarkan dan mendistribusikan produk ke pasaran.


Dan makin lama saya berada disini makin semakin terasa kalau hal tersebut menjadi nyata. Dan semoga ini bukan kenyataan, tapi tujuan utama dari suatu pabrik adalah mencari uang atau keuntungan sebanyak – banyaknya buat pabrik itu sendiri, bukan seberapa banyak value added yang diberikan pada produknya tapi seberapa laku dan menguntungkan produk itu, yah jika ITB ini pabrik saya masih berharap tujuan utamanya bukan seperti pabrik pada umumnya. Semoga ITB ini dinilai kinerjanya bukan hanya dari ratio – ratio keuangan semata.


Haah, nampaknya saya melenceng terlampau jauh dari topik sebelumnya. Tapi pertanyaan terakhir saya adalah, salahkah ITB dengan semua proses produksinya ini? Entahlah, tergantung apa sebenarnya makna pendidikan yang dianut ITB. Yang pasti salah satu hal yang membuat saya sebal menjadi seorang akademisi di ITB adalah makin lama cara pandang saya terhadap seorang manusia adalah berdasarkan kompetensi apa yang ia miliki, bukan manusia sebagai manusia yang utuh, saya cenderung memandang manusia hanya sebagai sumberdaya yang memiliki kompetensi (kualifikasi tertentu).


Tapi yang membuat saya bingung lagi.


Apakah sebenarnya manusia itu?
(okay,kayaknya dah cukup jauh melencengnya dari topik awal... I better end this)


kamis,8 september 2005
02.30 am

6 comments:

Lucky said...

bener-bener postingan yang bagus...dari struktur maupun isi-nya. sangat TI (he..he..apa coba?).

iye, vet, kata dosen KOmprof gw juga gitu. dari awal ampe Rumusan masalah itu 50 % ta, katanya. Gile, kita ditugasin nyari masalah ama studi literatur...bingung nih gw...
masak gw kepikiran: budaya korporat untuk pemenangan pemilu: studi kasus Partai **.
Atau Konsep manajemen terbaik sesuai karakter manusia indonesia. atau "strategi marketing dalam dunia politik".
MANA TI-nya?????

Adit-bram said...

hahahhaa, aye salut bang lucky kalo berani ambil keputusan itu....
jadi inget anak fisika yang bikin TA mengenai pemilu kmaren,,,

buat v3, dahsyat bener nih postingan, hasil kontemplasi brapa lama mpok...panjang bener, kayaye mending lo bikin Pendahuluan TA aje deh daripada posting sgini panjang :p but...lanjut lagi kawan...

vetriciawizach said...

wakakakak...
iye juga ya bram.
mending nyari topik TA dibanding nulis sgini panjang..
hasil kontemplasi dua minggu ni..
hehe..

ayo luk..
bikin gih
yang Konsep manajemen terbaik sesuai karakter manusia indonesia bagus tuh...

Anonymous said...

He..he..he..
postingan yang keren, berkualitas.. he..he..he. setuju lucky...

Sebelum mikir TA, jadi mikir dulu, jangan-jangan gw ini produk cacat dalam sistem produksi ITB. he..he..he..
lulus tidak tepat waktu, males kuliah, banyak ngulang..

hua..hua..hua..hua..
so what gitu lho..

Anonymous said...

jadi mahasiswa itb diangap angka-angka(baca produk) saja? bukan manusia?
Kita kan juga punya rasa dan punya hati :P

Elkana Catur said...

JAdi udahan belum bikin TAnya.......
yang menuntut kelulusan cepat itu bukan pabriknya...tapi penyandang modal kita...bener gak????bLog mu ku link ya./...