Minggu ini pasti minggu yang sangat spesial sampai saya berniat untuk menuliskannya. Yah, memang minggu ini minggu yang aneh. Ada tiga kejadian yang membuat saya gembira, tapi di sisi lain juga ada tiga lagi kejadian yang kurang mengenakkan.
Untuk kejadian yang membuat gembira, meminjam cara pengucapan bunda Hetty di Super Mama, ketiga-tiganya berhubungan dengan teman, teman dan teman. Minggu ini tiga kali saya makan bareng dengan teman-teman sambil bertukar cerita. Ketiganya adalah orang dengan latar belakang yang berbeda. Ketiganya juga membawa kesan yang berbeda buat saya.
Orang pertama adalah teh ika. Semenjak pertemuan pertama di Gampoeng Aceh, kami beberapa kali bertemu. Ibu yang satu ini punya cerita luar biasa yang sungguh mengagetkan saya. Cerita yang bisa membuat kami tertawa dan berkata: “ternyata dunia itu sempit ya”. Selasa kemarin saya bertemu lagi dengannya di The Kiost. Subjek cerita masih tetap sama namun disertai dengan beberapa cerita masa lalu. Dan kami berdua sama-sama kaget mendengar kisah masing-masing ketika masih di Kongres. Memang dunia ini ajaib. Saya hanya bisa tersenyum kecil kalau mengingatnya.
Orang kedua adalah Sampaguita Syafrezani alias Ivy alias iprut, teman sesama periset di Pusat Data Redaksi PR. Di tengah kemumetan, akhirnya kami menyempatkan diri ke BSM. Mau beli J.Co ceritanya. Walhasil kami malah bercerita ngalor ngidul dan naik Ontang-Anting!. Ah, tak disangka ibu psikolog yang satu ini memang agak sedikit gila. Tak apalah, untuk katarsi bagus juga. Hehe, saya malah belajar istilah-istilah psikolog, seperti katarsi, darinya.
Orang ketiga itu jamak. Ada luki dan novi(ar). Berkat mereka berdua saya menghabiskan minggu sore di Wendy’s sambil “dipaksa” membuat beberapa pengakuan. Buat saya mereka belum banyak berubah. Masih orang-orang iseng seperti dulu dan masih.........tua, hehehe. Walau tidak bisa dipungkiri, ada yang berbeda dari mereka. Viar, untuk singkatnya, mengenalkan saya pada orang baru yang sudah dikenalnya sejak lama. Sedang untuk luki, yah...katakan saja dia semakin pintar berkata-kata (in a good way of course, :p). Well, they sure made my sunday wonderfull.
Untuk kejadian yang tidak mengeakkanya, saya ingin mengurutkannya berdasarkan waktu. Kejadian pertama dimulai dari hari minggu, 28 Januari lalu, saat layar monitor komputer saya tiba-tiba bergaris-garis hijau ketika dinyalakan. Tanpa banyak pikir lagi saya tahu pasti ini disebabkan oleh VGA-cardnya (ceilah....gw dah kayak teknisi komputer aja). Masalahnya, hal yang sama pernah terjadi tahun lalu. Penyebabnya adalah VGA-card yang berjamur. Dalam hati saya tahu kalau obat untuk VGA yang berjamur hanya satu: VGA baru! Dan untuk beberapa saat saya hanya bisa bengong sambil memikirkan mana yang mau saya dahulukan, VGA baru atau DP motor. Kalau memilih VGA baru artinya saya harus mengeluarkan ongkos mahal untuk ke kantor lebih lama lagi. Sedang kalau memilih DP motor artinya saya harus rela tak menonton DVD dan tak menulis untuk beberapa lama.
Seminggu kemudian (hari ini) saya baru tahu, ternyata VGA di komputer saya itu masih AGP yang 64 MB....harganya tak lebih dari 150 ribu. Sebelumnya saya sudah membayangkan kalau biaya VGA baru ini sampai 800 ribu-an. Ternyata saya berlebihan,hehe.
Kejadian kedua terjadi hari rabu, 30 Januari 2008. Itu adalah hari ketiga saya mengendarai motor adik saya ke kantor. Saya yang sudah berbangga hati karena pada dua hari sebelumnya bisa mengendarai motor di waktu hujan, macet, kencang dan bisa menyalip kendaraan, akhirnya harus merasakan sakitnya jatuh dari motor.
Kejadiaanya terjadi sore hari di perempatan riau. Saat itu seorang pengemudi BODOH mengendarai motornya sambil sms-an. Dia tak melihat kanan-kiri, berbelok tiba-tiba dan akhirnya menabrak saya. Pengemudi BODOH itu kemudian kabur seenaknya, diiringi umpatan orang-orang yang berada di sekitar situ. Begonya, hal pertama yang terpikir di otak saya ketika saya bangun dari motor adalah: “Gileee, gw dah harus beli VGA baru sm DP motor, kena berapa lagi ni kalau sm nyervis motor adek gw!”. Di kepala saya hanya tulisan Rp berputar-putar, memar di kaki pun tak terasa lagi. Untungnya saya masih bisa pulang dengan selamat. Motor pun masih bisa digunakan. Walau saya masih khawatir apakah motor ini baik-baik saja atau tidak.
Keesokannya kekhawatiran saya “terbukti”. Bunyi mesin si motor agak aneh. Kalau kecepatannya dinaikkan suaranya jadi ga “mulus” lagi, seperti ada pasir yang masuk kemesin pikir saya. Dengan heboh saya bercerita pada dua orang teman dan dua orang senior saya di kantor, sambil bertanya-tanya apa yang salah dengan mesinnya dan dimana bengkel terdekat. Eric, sesama periset di PDR, berbaik hati mendengar mesin motor saya. Dengan semangat saya memperdengarkan suara mesin yang aneh sambil berkata “Kieu, ric, soarana.....kunaonnya?” Dia hanya tersenyum, lalu mengencangkan baut plat nomor depan. “Cobaan deui, vet,” katanya. Lalu keajaiban terjadi. Suara motor mulus kembali. Ternyata suara-suara aneh hanya disebabkan oleh getaran dari plat motor yang kurang kencang. Si motor merah ini selamat dari kecelakaan dan hanya mengalami lecet-lecet saja. Tak perlu dibawa ke bengkel. Hehe, ternyata saya memang sering berlebihan.
Kejadian ketiga tak bisa saya duga kapan terjadinya. Termos putih kesayangan saya tiba-tiba menghilang dari kamar. Sebenarnya saya tahu dimana tempat membeli termos ini dan bisa menggantinya dengan segera. Tapi termos mungil ini pemberian mamah. Ketika dia sedang di IBCC dan melihat termos ini dia berpikir untuk memberikannya untuk saya. “Supaya kamu bisa bekal ke kantor, “katanya.
Seceroboh-cerobohnya saya, saya belum pernah menghilangkan barang pemberian orang. Pasti saya jaga. Yah, rusak-rusak sedikit si pernah. Tapi tidak sampai hilang.
Saya baru tersadar kehilangan termos hari jumat. Memang, semenjak membawa motor saya tidak membawa bekal karena repot. Jadi, sampai saat ini saya tidak tahu kapan dan bagaimana termos itu bisa sampai raib. Kehilangan benda yang satu ini cukup membuat saya gelisah. Semua sudut ruangan sudah saya periksa, namun tak ada tanda-tanda keberadaannya. Ck, sungguh membuat saya sebal
So, that’s my week. Funny and strange things happen.
I guess I could called it one special week.
Hmm....no, I ‘ll call it: one fine week
Well, it’s a wrap!.
Untuk kejadian yang membuat gembira, meminjam cara pengucapan bunda Hetty di Super Mama, ketiga-tiganya berhubungan dengan teman, teman dan teman. Minggu ini tiga kali saya makan bareng dengan teman-teman sambil bertukar cerita. Ketiganya adalah orang dengan latar belakang yang berbeda. Ketiganya juga membawa kesan yang berbeda buat saya.
Orang pertama adalah teh ika. Semenjak pertemuan pertama di Gampoeng Aceh, kami beberapa kali bertemu. Ibu yang satu ini punya cerita luar biasa yang sungguh mengagetkan saya. Cerita yang bisa membuat kami tertawa dan berkata: “ternyata dunia itu sempit ya”. Selasa kemarin saya bertemu lagi dengannya di The Kiost. Subjek cerita masih tetap sama namun disertai dengan beberapa cerita masa lalu. Dan kami berdua sama-sama kaget mendengar kisah masing-masing ketika masih di Kongres. Memang dunia ini ajaib. Saya hanya bisa tersenyum kecil kalau mengingatnya.
Orang kedua adalah Sampaguita Syafrezani alias Ivy alias iprut, teman sesama periset di Pusat Data Redaksi PR. Di tengah kemumetan, akhirnya kami menyempatkan diri ke BSM. Mau beli J.Co ceritanya. Walhasil kami malah bercerita ngalor ngidul dan naik Ontang-Anting!. Ah, tak disangka ibu psikolog yang satu ini memang agak sedikit gila. Tak apalah, untuk katarsi bagus juga. Hehe, saya malah belajar istilah-istilah psikolog, seperti katarsi, darinya.
Orang ketiga itu jamak. Ada luki dan novi(ar). Berkat mereka berdua saya menghabiskan minggu sore di Wendy’s sambil “dipaksa” membuat beberapa pengakuan. Buat saya mereka belum banyak berubah. Masih orang-orang iseng seperti dulu dan masih.........tua, hehehe. Walau tidak bisa dipungkiri, ada yang berbeda dari mereka. Viar, untuk singkatnya, mengenalkan saya pada orang baru yang sudah dikenalnya sejak lama. Sedang untuk luki, yah...katakan saja dia semakin pintar berkata-kata (in a good way of course, :p). Well, they sure made my sunday wonderfull.
Untuk kejadian yang tidak mengeakkanya, saya ingin mengurutkannya berdasarkan waktu. Kejadian pertama dimulai dari hari minggu, 28 Januari lalu, saat layar monitor komputer saya tiba-tiba bergaris-garis hijau ketika dinyalakan. Tanpa banyak pikir lagi saya tahu pasti ini disebabkan oleh VGA-cardnya (ceilah....gw dah kayak teknisi komputer aja). Masalahnya, hal yang sama pernah terjadi tahun lalu. Penyebabnya adalah VGA-card yang berjamur. Dalam hati saya tahu kalau obat untuk VGA yang berjamur hanya satu: VGA baru! Dan untuk beberapa saat saya hanya bisa bengong sambil memikirkan mana yang mau saya dahulukan, VGA baru atau DP motor. Kalau memilih VGA baru artinya saya harus mengeluarkan ongkos mahal untuk ke kantor lebih lama lagi. Sedang kalau memilih DP motor artinya saya harus rela tak menonton DVD dan tak menulis untuk beberapa lama.
Seminggu kemudian (hari ini) saya baru tahu, ternyata VGA di komputer saya itu masih AGP yang 64 MB....harganya tak lebih dari 150 ribu. Sebelumnya saya sudah membayangkan kalau biaya VGA baru ini sampai 800 ribu-an. Ternyata saya berlebihan,hehe.
Kejadian kedua terjadi hari rabu, 30 Januari 2008. Itu adalah hari ketiga saya mengendarai motor adik saya ke kantor. Saya yang sudah berbangga hati karena pada dua hari sebelumnya bisa mengendarai motor di waktu hujan, macet, kencang dan bisa menyalip kendaraan, akhirnya harus merasakan sakitnya jatuh dari motor.
Kejadiaanya terjadi sore hari di perempatan riau. Saat itu seorang pengemudi BODOH mengendarai motornya sambil sms-an. Dia tak melihat kanan-kiri, berbelok tiba-tiba dan akhirnya menabrak saya. Pengemudi BODOH itu kemudian kabur seenaknya, diiringi umpatan orang-orang yang berada di sekitar situ. Begonya, hal pertama yang terpikir di otak saya ketika saya bangun dari motor adalah: “Gileee, gw dah harus beli VGA baru sm DP motor, kena berapa lagi ni kalau sm nyervis motor adek gw!”. Di kepala saya hanya tulisan Rp berputar-putar, memar di kaki pun tak terasa lagi. Untungnya saya masih bisa pulang dengan selamat. Motor pun masih bisa digunakan. Walau saya masih khawatir apakah motor ini baik-baik saja atau tidak.
Keesokannya kekhawatiran saya “terbukti”. Bunyi mesin si motor agak aneh. Kalau kecepatannya dinaikkan suaranya jadi ga “mulus” lagi, seperti ada pasir yang masuk kemesin pikir saya. Dengan heboh saya bercerita pada dua orang teman dan dua orang senior saya di kantor, sambil bertanya-tanya apa yang salah dengan mesinnya dan dimana bengkel terdekat. Eric, sesama periset di PDR, berbaik hati mendengar mesin motor saya. Dengan semangat saya memperdengarkan suara mesin yang aneh sambil berkata “Kieu, ric, soarana.....kunaonnya?” Dia hanya tersenyum, lalu mengencangkan baut plat nomor depan. “Cobaan deui, vet,” katanya. Lalu keajaiban terjadi. Suara motor mulus kembali. Ternyata suara-suara aneh hanya disebabkan oleh getaran dari plat motor yang kurang kencang. Si motor merah ini selamat dari kecelakaan dan hanya mengalami lecet-lecet saja. Tak perlu dibawa ke bengkel. Hehe, ternyata saya memang sering berlebihan.
Kejadian ketiga tak bisa saya duga kapan terjadinya. Termos putih kesayangan saya tiba-tiba menghilang dari kamar. Sebenarnya saya tahu dimana tempat membeli termos ini dan bisa menggantinya dengan segera. Tapi termos mungil ini pemberian mamah. Ketika dia sedang di IBCC dan melihat termos ini dia berpikir untuk memberikannya untuk saya. “Supaya kamu bisa bekal ke kantor, “katanya.
Seceroboh-cerobohnya saya, saya belum pernah menghilangkan barang pemberian orang. Pasti saya jaga. Yah, rusak-rusak sedikit si pernah. Tapi tidak sampai hilang.
Saya baru tersadar kehilangan termos hari jumat. Memang, semenjak membawa motor saya tidak membawa bekal karena repot. Jadi, sampai saat ini saya tidak tahu kapan dan bagaimana termos itu bisa sampai raib. Kehilangan benda yang satu ini cukup membuat saya gelisah. Semua sudut ruangan sudah saya periksa, namun tak ada tanda-tanda keberadaannya. Ck, sungguh membuat saya sebal
So, that’s my week. Funny and strange things happen.
I guess I could called it one special week.
Hmm....no, I ‘ll call it: one fine week
Well, it’s a wrap!.
6 comments:
seminggu berapa kali nonton super mama :) ?
di PR ngapain aja mbak vetri :) ?
hahahaha....
selasa-rabu-kamis, rif...
rajin gw nonton trio madam ivan-ruben-eko. Apalagi pas komputer belum nyala kyk gini.
di PR? ngumpulin data, data dan data....
eh eh,,apa maksudnya itu tua??? matang! hehehehe,,,
vetri juga berubah koq,,,makin kurus (n gw ga sinis ketika ngomong ini) n makin menarik...hehehehe, ga usah ge-er!
btw, bukannya katarsis? dari catharsis: emotional release, freeing and elimination of repressed emotion...(oxford dict)
waa....maap2...
iya,yg benernya katarsis. Salah mendengar waktu itu.
hehehehe...
i take that as a compliment, ki..
Eh eh eh..
Maafkan daku. Sempet berkunjung ke sini. Warnanya cocok dengan dirimu, Nak.
Setelah dua pertemuan itu, kalo ada gosip baru kita akan bertemu dan bertemu lagi. Hehehehe.. Semoga selalu ada "gosip" baru ya, Vet..
Eh tau ga si Veeeeet.. Masa dia ga tau dooong kalo......
to Lucky:
;)) udahlah kalian berdua ni.. Ehehehehe (jahil mode on)
Btw, Iye Lucky emang jadi seperti om-om muda Jakarta.
Bahasa kerennya: Semakin fraktal!=))..=))
Mpretttt... hehe
yang bener katarsis .. pake "s" nak belakang nya..
Kapan atuh makan lagi? Kalo ga ten to ten.. clemmons juga OK.. hehe
Post a Comment