Recent Posts

Wednesday, December 03, 2008

Comfort Is a Mother's Blessing

Minggu ini hampir menjadi minggu neraka buat saya. Hampir, karena minggu ini sebenarnya belum berakhir. Saya tidak tahu sama sekali apa lagi yang menunggu saya di akhir nanti. Yang pasti begitu banyak perubahan yang terjadi dalam waktu singkat. Masalah perubahannya ini ke arah yang lebih baik atau tidak saya masih belum tahu.

Nah, hari rabu ini mungkin menjadi puncaknya. Tak heran jika tiba-tiba saat mengendarai motor, waktu pulang kantor, air mata saya menetes. Bukan cengeng. Tapi selama ini, air mata menjadi katarsis saya. Kalau sudah dikeluarkan, walau tanpa sebab, tiba-tiba saja perasaan saya jadi sedikit lebih baik. It’s like some kind of guilty pleasure for me. (jahh…guilty pleasurenya ga elit banget, vet)

Baru 15 menit sampai di kost, HP saya berdering. Dari Ibu Manager. Panggilan becandaan untuk mamah dari kami anak-anaknya.

Yak. Sesi curhat pun dimulai. Dengan segenap jiwa raga saya bercerita apa yang terjadi belakangan ini. Sesekali ia menyela dan bertanya. Saat sesi berbicara berganti, giliran ia yang memberikan nasehat pada saya.

Jujur, saya hanya menangkap setengah isi nasehatnya. Bukan karena tidak mau menyimak. Tapi, di saat-saat seperti itu, mendengar suaranya lebih menenangkan hati dibanding isi ucapannya. With every word she said, I received that comfort I need. Ditambah lagi di ujung kalimat ia memberikan restunya atas apapun yang akan terjadi. So soothing. Adem langsung ni hati.

Saat telepon dimatikan, ada energi baru yang mengalir darinya.

Padahal, sampai saat sebelum saya kuliah saya tak pernah dekat sama sekali dengan beliau. Di masa-masa pemberontakan pada saat remaja, terlalu banyak kesalahpahaman di antara kami. Terlalu banyak sikap yang tak disetujui. Jadi, dalam benak saya, hubungan ibu-anak yang dekat itu hanya jadi mitos semata.

Nah, entah sejak kapan frekuensi kami mulai sama. Ia mulai memposisikan saya sebagai orang yang bertanggung jawab atas tindakannya sendiri. Saya mulai cukup dewasa untuk melihat dari sudut pandangnya. Kami sama-sama berempati dan menjadi teman.

Bagi saya sendiri puncaknya adalah ketika ia dua kali menangis buat saya. Pertama saat otot kaki saya robek gara-gara maen basket (tssahh…gaya gini kedengerannya). Kedua saat saya kehilangan koper di bandara medan.

Pada peristiwa pertama, saya sendiri tidak tahu hal itu sempat terjadi. Ayah saya yang keceplosan bicara seperti ini: “sebenernya males nengok ke bandung, tapi mamah kamu tuh nangis gara-gara cemas”. Ahhh…seketika saya terdiam dan salah tingkah. Anak mana yang tidak terharu mendengar hal seperti itu. Karena saya sendiri jarang, hampir tidak pernah, melihat ia menangis.

Pada peristiwa kedua, saya rasa ia panik. Anak perempuan satu-satunya terdampar di bandara medan, sendirian, dan kehilangan koper. Walau berulang kali saya tekankan kalau HP, tiket pesawat pulang dan dompet masih ada di tangan, ia tetap cemas. (wah..jangan-jangan guilty pleasure menangis ini turunan dari beliau. Hehe)

Dua peristiwa ini sangat membuat saya terharu. Seperti diingatkan kalau apapun yang terjadi, sejauh apapun jarak aktual diantara kami, seberapapun usia saya, akan ada satu orang di dunia ini yang akan mencemaskan saya. Walaupun kecemasan itu terkadang ditujukan untuk hal-hal yang saya anggap sepele. In its own way, it feels comforting.

Mitos itu sudah bukan menjadi mitos.

Di mata saya sendiri, mamah itu wanita yang kuat. Bukan kuat dalam artian seorang feminis atau pemimpin yang menonjol atau seorang wanita karir atau orang yang punya pengaruh kuat. Buat saya ia kuat dalam kesederhanaan dan dalam diamnya. Pernah baca “Bumi Manusia”? Tokoh ibunya Minke sangat mengingatkan saya padanya. Tipikal wanita Jawa yang tak pernah mengangkat nada suaranya dan selalu menurut pada suami.

Tapi, tak pernah sekalipun ia mengeluh atas apapun. Ya, tak pernah sekalipun. Tak pernah sekalipun saya melihat dia meminta sesuatu di luar kepentingan anak-anaknya, walau keinginan itu pasti ada.

Dia hanya diam dan mengerti.

Bagaimana ya menjelaskannya. Umm…di masa-masa seperti sekarang, dimana wanita menuntut kesetaraan hak dan kebebasan untuk mengejar impiannya, mungkin sikap yang ia ambil ini terlihat seperti bertentangan. Setback. Tapi, di mata saya, kerelaan ia untuk melepas keinginan, ego, impian, cita-cita, kesenangan pribadi, malah menjadi kekuatannya. Saya disini sedang membicarakan seorang wanita yang tak pernah bergosip, tak pernah ke salon, tak pernah membeli kosmetik yang aneh-aneh, tak pernah nonton sinetron karena remote TV dikuasai ayah, tak pernah beli sepatu hanya karena ingin, dan yang definisi hiburannya tiap hari adalah memainkan Pop Cap Games dan menyiram tanaman.

 I simply adore her.

Of all the blessing I received in this world, the first one I want to thank God is having her as my mom. Love you mom! Thanks for the comfort.


Note: Gilee…setelah dua tahun, ada juga tulisan yang beneran dari hati. Walau isinya curhat + masa lalu banget. Hehehe… 

1 comments:

Anonymous said...

what a nice note. glad that i had ever read it.
thanks. and keep writing. daily! i think there will b lot of good writing like this one.
adios.