Okay, now I’m officially in love with Queen.
Sebenarnya dari dulu memang saya sudah suka dengan grup band ini. Pengaruh ayah saya rasa. Dari dulu beliau memang sangat menggemari Freddy Mercurie. Di matanya, tak ada frontman yang bisa mengalahkan kehebatan Om Freddy. Ayah saya bahkan sering bercerita tentang Om Freddy yang berdiri megah di atas panggung dan menjadikan seluruh penonton miliknya. Ia akan membuat mereka bernyanyi, bertepuk tangan, melompat, atau melambaikan tangan. Semua dalam satu kesatuan, bak seorang raja yang memerintah rakyatnya. Begitu menurut beliau.
Efeknya saya melewatkan masa kecil dengan ditemani lagu-lagu Queen. Di pagi hari, kalau ayah saya ingin membangunkan ‘seisi rumah’, ia tinggal menyetel lagu Queen keras-keras. Kadang-kadang memang diselingi lagu-lagu lain seperti Roxette, Deep Purple, John Denver, atau Pance Pondang (what can I say, dia batak asli). Tapi Queen selalu menjadi favoritnya. Jadilah lagu seperti “Bohemian Rhapsody”, “Fat Bottomed Girls”, “Radio Ga Ga”, atau “Crazy Litle Thing Called Love” menjadi lagu pertama yang saya ‘kenal’. Memori sosok Freddy pun melekat kuat di benak saya.
Beranjak dewasa, saya sendiri jadi menyukai Queen. Apalagi lagu-lagunya seperti “We Are The Champion”, “We Will rock You”, atau “I Want To Break Free” tak pernah hilang dari peredaran. Tapi ya, sukanya hanya sekedar suka. Lagu yang saya tahu pun hanya berkisar lagu-lagu populernya. Sosok Freddy? Tergantikan oleh kharisma Bono, Mick Jagger atau Bob Dylan.
Nah, beberapa waktu yang lalu saya menemukan satu lagu Queen lama. Saya tidak ingat dari mana awalnya, tapi saat sedang browsing, saya sampai pada satu situs yang sedang membahas lagu “Teo Torriatte/Let Us Cling Together”. Oh…saya langsung jatuh cinta pada lirik ciptaan Brian May itu. Indah. Puitis. Dan yang paling membuat saya tertarik adalah kenyataan kalau lirik itu ditujukan untuk fansnya di Jepang. Bukan lagu cinta, bukan lagu tentang kematian, tapi lagu ucapan terimakasih yang indah. Saya pun hanya membutuhkan satu kali mendengar untuk suka pada lagu tersebut.
Dari sana saya mulai mencari tahu tentang Queen. Tentang lagunya, tentang sosok personelnya…tentang Freddy.
Hasilnya mencengangkan. Banyak lagu-lagu lama Queen yang saya langsung suka. Ada “Good Old Fashion Lover Boy”, “Save Me”, “Sail Away Sweet Sister”, “Mother Love” atau “Killer Queen”. Musiknya bervariasi. Ada yang beraliran heavy metal seperti “Tie Your Mother Down”, hingga sedikit berirama country seperti “39”. Liriknya? Sheer Briliance. Banyak sekali kalimat-kalimat yang ingin saya kutip dan sekedar saya tulis ulang di kertas, atau di status YM.
Yang tambah membuatnya menarik adalah cerita dibalik pembuatan lagu Queen. Ambilah “Too Much Love Will Kill You”. Lagu ini ditulis oleh Brian May ditengah proses perceraiannya. Atau “Love of My Life” yang dituliskan Freddy untuk seorang wanita (note: Freddy ini gay), yang dia akui sebagai cinta sejatinya. Bagaimana wanita ini menjadi satu-satunya orang yang mengerti dirinya dan menjadi sahabat sejatinya. Atau lagu “The Show Must Go On” yang dituliskan di saat-saat terakhir hidup Freddy.
Semua ini ditambah dengan aksi panggung mereka yang memang luar biasa. Ayah saya tak berbohong. Freddy seperti bersinar di atas panggung. Entah dari mana kekuatan dan kepercayaan diri yang ia gunakan. Dengan standing mic, gesture tubuh, denting grand piano, atau bahkan suaranya yang melengking, ia menghipnotis semua orang. Cek saja penampilan mereka di Live Aid 1985 di Stadion Wembley. Tak salah jika penampilan tersebut dikatakan sebagai “Greatest Performances of All Time” oleh media. Ratusan ribu orang tunduk di bawah perintah Freddy.
Ya, saya memang terpesona kembali pada Queen. Karena liriknya, karena ceritanya, karena personelnya…karena semuanya. Saya pun tak peduli kalau band ini adalah band yang sudah memudar di saat saya baru mengenal musik. Kenyataan bahwa Paul Rodgers ditunjuk untuk menggantikan Freddy pun tak mengganggu saya. The show must go on.
Ya, resmi sudah saya jatuh cinta pada grup band ini.
Sebenarnya dari dulu memang saya sudah suka dengan grup band ini. Pengaruh ayah saya rasa. Dari dulu beliau memang sangat menggemari Freddy Mercurie. Di matanya, tak ada frontman yang bisa mengalahkan kehebatan Om Freddy. Ayah saya bahkan sering bercerita tentang Om Freddy yang berdiri megah di atas panggung dan menjadikan seluruh penonton miliknya. Ia akan membuat mereka bernyanyi, bertepuk tangan, melompat, atau melambaikan tangan. Semua dalam satu kesatuan, bak seorang raja yang memerintah rakyatnya. Begitu menurut beliau.
Efeknya saya melewatkan masa kecil dengan ditemani lagu-lagu Queen. Di pagi hari, kalau ayah saya ingin membangunkan ‘seisi rumah’, ia tinggal menyetel lagu Queen keras-keras. Kadang-kadang memang diselingi lagu-lagu lain seperti Roxette, Deep Purple, John Denver, atau Pance Pondang (what can I say, dia batak asli). Tapi Queen selalu menjadi favoritnya. Jadilah lagu seperti “Bohemian Rhapsody”, “Fat Bottomed Girls”, “Radio Ga Ga”, atau “Crazy Litle Thing Called Love” menjadi lagu pertama yang saya ‘kenal’. Memori sosok Freddy pun melekat kuat di benak saya.
Beranjak dewasa, saya sendiri jadi menyukai Queen. Apalagi lagu-lagunya seperti “We Are The Champion”, “We Will rock You”, atau “I Want To Break Free” tak pernah hilang dari peredaran. Tapi ya, sukanya hanya sekedar suka. Lagu yang saya tahu pun hanya berkisar lagu-lagu populernya. Sosok Freddy? Tergantikan oleh kharisma Bono, Mick Jagger atau Bob Dylan.
Nah, beberapa waktu yang lalu saya menemukan satu lagu Queen lama. Saya tidak ingat dari mana awalnya, tapi saat sedang browsing, saya sampai pada satu situs yang sedang membahas lagu “Teo Torriatte/Let Us Cling Together”. Oh…saya langsung jatuh cinta pada lirik ciptaan Brian May itu. Indah. Puitis. Dan yang paling membuat saya tertarik adalah kenyataan kalau lirik itu ditujukan untuk fansnya di Jepang. Bukan lagu cinta, bukan lagu tentang kematian, tapi lagu ucapan terimakasih yang indah. Saya pun hanya membutuhkan satu kali mendengar untuk suka pada lagu tersebut.
Dari sana saya mulai mencari tahu tentang Queen. Tentang lagunya, tentang sosok personelnya…tentang Freddy.
Hasilnya mencengangkan. Banyak lagu-lagu lama Queen yang saya langsung suka. Ada “Good Old Fashion Lover Boy”, “Save Me”, “Sail Away Sweet Sister”, “Mother Love” atau “Killer Queen”. Musiknya bervariasi. Ada yang beraliran heavy metal seperti “Tie Your Mother Down”, hingga sedikit berirama country seperti “39”. Liriknya? Sheer Briliance. Banyak sekali kalimat-kalimat yang ingin saya kutip dan sekedar saya tulis ulang di kertas, atau di status YM.
Yang tambah membuatnya menarik adalah cerita dibalik pembuatan lagu Queen. Ambilah “Too Much Love Will Kill You”. Lagu ini ditulis oleh Brian May ditengah proses perceraiannya. Atau “Love of My Life” yang dituliskan Freddy untuk seorang wanita (note: Freddy ini gay), yang dia akui sebagai cinta sejatinya. Bagaimana wanita ini menjadi satu-satunya orang yang mengerti dirinya dan menjadi sahabat sejatinya. Atau lagu “The Show Must Go On” yang dituliskan di saat-saat terakhir hidup Freddy.
Semua ini ditambah dengan aksi panggung mereka yang memang luar biasa. Ayah saya tak berbohong. Freddy seperti bersinar di atas panggung. Entah dari mana kekuatan dan kepercayaan diri yang ia gunakan. Dengan standing mic, gesture tubuh, denting grand piano, atau bahkan suaranya yang melengking, ia menghipnotis semua orang. Cek saja penampilan mereka di Live Aid 1985 di Stadion Wembley. Tak salah jika penampilan tersebut dikatakan sebagai “Greatest Performances of All Time” oleh media. Ratusan ribu orang tunduk di bawah perintah Freddy.
Ya, saya memang terpesona kembali pada Queen. Karena liriknya, karena ceritanya, karena personelnya…karena semuanya. Saya pun tak peduli kalau band ini adalah band yang sudah memudar di saat saya baru mengenal musik. Kenyataan bahwa Paul Rodgers ditunjuk untuk menggantikan Freddy pun tak mengganggu saya. The show must go on.
Ya, resmi sudah saya jatuh cinta pada grup band ini.
4 comments:
Ya sudah, kalau sudah resmi jatuh cinta hayo dilanjut ke jenjang yang lebih "serius".
Eh ini lg ngomongin Queen ya? Hahaha.
hahahahaha...gimana caranya melanjutkan ke jenjang yg lebih serius coba? hehehe
mo koleksi mgkn? ada tuh di rumah lagu2nya, videoklipnya jg lengkap :P
wekekekek....
Post a Comment