Recent Posts

Sunday, May 15, 2005

Guru SD?

Semakin lama, kadang – kadang orang semakin melupakan nilai – nilai yang ia punyai sejak kecil. Terkadang tuntutan hidup bisa membuat kita menjadi orang lain dan melupakan apa sebenarnya arti hidup. (Gileeee...)

Dulu, waktu kecil, gw pengen banget jadi guru sd (never really understand why..), terus seiring waktu gw baru menyadari betapa konyol dan lugunya keinginan gw waktu itu (dan pernyataan ini juga gw sesali kemudian). Pas gw bilang keinginan gw ma orang – orang, yang ada tuh hanya respon negatif tentang betapa konyolnya keinginan gw (terkait dengan kondisi guru2 sd sekarang juga kali ya...) , tentang guru sd yang bergaji rendah, guru sd yang hanya tamatan UPI (no offense at all) dan ga punya gelar sekelas insinyur atau dokter... kesannya ga keren-lah guru SD tuh. 

Trus, semenjak kecil gw ‘dididik’ oleh lingkungan betapa kerennya menjadi seorang dokter, menjadi insinyur, betapa kerennya menjadi seorang yang pintar dan menghasilkan banyak uang. Dan hal itu masih terus berlanjut di lingkungan sekolah.... bahwa seorang anak yang berhasil tuh anak yang dapat peringkat satu, punya banyak bakat yang bisa membanggakan orangtua (hmmm... di tingkat purwakarta si juara lomba baca puisi ato juara lomba senam kesegaran jasmani juga udah cukup membanggakan hati orang tua...). Pokonya jadi anak yang membanggakan itu artinya pernah juara, rangking satu terus, terkenal, ga pernah tinggal kelas dan masuk ITB (he3x... yang ini si ngga, yang penting kuliah minimal di bandung –purwakarta gitu Lho..- )terus lanjutannya dapet kerja (bagus kalau dapet di perusahaan gede yang dikenal ma orang purwakarta, bisa membanggakan orang tua lagi. I.E di purwakarta si ga dikenal yang namanya BCG ato SlumberSea...-how pathetic-).. abis itu nikah, punya anak2 lucu yang (lagi2) menghibur hati orang tua.. Begitulah jalur hidup seseorang semestinya...

Masuk di ITB, lagi – lagi anggapan seseorang yang sukses (klo dulu parameternya dianggap keren sama orang lain, sekarang sukses!) tuh mahasiswa yang cepet lulus, IP tinggi, aktif, punya jaringan luas, masuk Multinational Coporate, punya gaji tinggi dan setelah beberapa tahun mampu menyumbang sesuatu buat almamater tercinta (minimal water tap-lah...).

Gw ga bilang itu salah sih, kalau kita bisa jadi seseorang yang seperti itu kenapa ngga. Tapi yang kadang2 gw rasa salah adalah kenapa kalau kita menjadi orang yang di luar kriteria seperti itu kita malu dengan diri kita sendiri... Memang apa salahnya kalau nilai DPTI gw D (yakin lu ngomong gini, Vet?), memang apa salahnya kalau nanti kerja Cuma di perusahaan yang tidak terkenal, memang apa salahnya kalau KP Cuma di Poliklinik Ganesha (ooppsss, jadi curhat gini ^^) Apa salahnya menjadi orang yang kita inginkan? Apa salahnya menjadi seorang guru sd? (am I overreacting here?)

Hmmm... tapi kalau dipikir2 lagi, jangan2 tulisan gw di atas cuma bentuk ketidakmampuan gw menghadapi kerasnya dunia, pelarian gw dari tugas dan tanggung jawab gw... Memang relatif lebih mudah menjadi seorang guru sd dibanding masuk MNC, relatif lebih mudah untuk ‘dapet D dan bilang ga ada salahnya dapet D ko’ dibanding dengan berusaha mendapatkan A, dan tulisan2 gw di atas cuma jadi pembenaran akan kepengecutan gw...

But, I really mean it... Ga seharusnya kita dinilai dari sekedar ukuran2 duniawi (gileee), bahkan ga seharusnya kita saling menilai orang. Karena semuanya adalah proses kehidupan dan yang berhak memberikan nilai akhir adalah yang di atas. Kita ga punya hak apapun menilai tingkat kualitas hidup seseorang (baik itu perbuatan,iman dll). Karena bukan kita yang menciptakan sesama kita manusia.

God, help me to be strong in this world, and let only Thou who become my judge...

0 comments: