Recent Posts

Wednesday, August 17, 2005

Suatu Saat di Sore Hari

Alunan lagu ‘When You Believed’ terdengar dari beberapa jenis alat musik, terompet,mylophone dan beberapa alat musik yang aku tidak tahu namanya. Suara alat musik itu setidaknya terdengar sampai Tugu Soekarno. Suara alat musik yang tidak asing lagi di telinga anak – anak ITB.
Beberapa orang gadis sedang mengibarkan – ngibarkan bendera mengikuti irama lagu tadi, sesekali dilemparkannya bendera itu ke udara, membuat gerakan yang lincah dan menarik. Terkadang bendera itu gagal ditangkap, membuat gadis tersebut mengeluarkan mimik muka ‘greget’ karena harus mengulang – ngulang gerakan . Disisi lain, para pemain musik tak hentinya memenuhi sore hari ini dengan alunan lagu, terkadang lagu berganti dengan lagu – lagu kemerdekaan, mengingatkanku bahwa ini sudah pertengahan bulan agustus.

Tak jauh dari tempat para pemusik itu, beberapa orang sedang bermain bola. Tak profesional tampaknya. Masih menggunakan kaos dan celana jeans yang digulung, ada yang menggunakan sendal dan ada yang bersepatu, bahkan gawangnyapun hanya dibatasi oleh sepatu salah seorang pemain. Tapi nampak keceriaan dan kepuasan di muka – muka mereka. Tertawa,sambil sesekali mengusap keringat.

Di sudut lain, beberapa orang sedang duduk di bawah pepohonan. Hanya menikmati matahari sore dan semilir angin tampaknya, sambil sesekali bercanda dan menertawakan sesuatu, atau mengganggu orang yang lewat.

Ah,sebenarnya aku tak tahu apa yang mereka kerjakan.

Aku hanya memandangi dari kejauhan.

Selang beberapa waktu, barisan anak – anak smu melintas, dengan satu orang berjaket hijau memegang papan nama kelompok, memandu anak – anak smu tersebut.

Ah,aku lupa.

Mereka bukan anak smu lagi saat ini. Hanya mungkin belum bertransformasi secara utuh ke bentuk seorang mahasiswa, setidaknya belum dari segi penampilan.

Makin lama, muncul pula barisan – barisan anak smu lainnya, melintasi bangunan putih megah yang tampak cantik di sore hari ini. Entah apa yang dipikirkan oleh adik – adik baruku ini. Mungkin sambil melewati kampus ini mereka berkata dengan bangga dalam hati ‘duh,gw dah jadi anak ITB nich’. Tapi entah, mungkin mereka sedang tak berpikir apa – apa juga, mungkin juga sedang memperhatikan teman – teman kelompoknya dan sedang mencocokkan diri bergaul dengan siapa. Atau mungkin juga sedang kesal karena tidak mengerti mengapa harus berjalan seperti serombongan itik atau angsa yang sedang digembalakan,berbaris lurus dengan dipimpin oleh ‘induk’ masing – masing. Entahlah, mereka punya kebebasan untuk berpikir dan merasakan apapun.
Sesekali, orang – orang yang duduk di bawah pohon tadi menggoda para anak ‘itik’ ini. Memberikan senyuman manis sambil sesekali juga menggoda ‘induk’nya.

Ah, dasar anak ITB.

Di pelataran campus center sendiri para peserta lokakarya kemahasiswaan mulai berdatangan setelah Break Ishoma. Beberapa orang sudah mulai mengambil tempatnya masing – masing, beberapa sedang memperhatikan rombongan anak ‘itik’ tadi.... dan beberapa memilih lagu untuk mengisi sore ini dengan nuansa – nuansa kemahasiswaan, ‘sekalian buat menarik perhatian anak – anak baru juga’ kata salah seorang peserta. Hmm, suara lagu kemahasiswaan itu bercampur dengan suara dari para pemain musik di lapangan.

Ah, tak apalah..

Nampaknya kita mempunyai cara kita masing – masing untuk mengisi sore ini. Entah suasananya, entah seseorangnya yang membuat sore ini tampak indah.

Sambil bersender pada pagar pelataran campus center dan menyaksikan rombongan anak ‘itik’ ini lewat, aku nikmati sore hari ini.

-----------

PS : Entah apa yang dipikirkan oleh bapak – bapak rektor kita. Aku tak tahu apakah kegiatan – kegiatan orang – orang sore hari ini merupakan salah satu bentuk dosa kemahasiswaan atau tidak. Aku tak tahu bahwa untuk melakukan kegiatan seperti main bola atau berlatih alat musik itu harus izin untuk menggunakan fasilitas ITB atau tidak. Aku tak tahu pula apakah duduk di pingiran lapangan itu produktif atau tidak. Aku bahkan tak tahu apakah membariskan anak – anak smu itu seperti barisan anak itik legal atau tidak. Satu hal yang kutahu, jika kebenaran itu sederhana, maka sore hari ini adalah kebenaran yang manis dan romantis. Entah kesalahan seperti apa yang dilihat oleh bapak – bapak rektor itu kepada kita. (hehe,ga nyambung banget..yang ga disetujui itu kan OS dan sejenisnya... klo OS bisa seindah dan seromantis ini keadaannya sih mungkin OS ga dilarang. Duh,ngomong apa si gw..)

4 comments:

vetriciawizach said...

iya juga ya...
lama2 kita jadi anak 'itik' beneran yang digembalain sama pa widyo...

Trian Hendro A. said...

lho...jangan salah, mereka kan cuma ingin "tertibkan" kita-kita yang ga jelas juga ini.

hidup senator....(kongkret ga c?)

ikram said...

Kayanya Djoko lebih hebat daripada Kus ya, dalam hal membuat mahasiswa diam?

Kayanya sih...

Anonymous said...

emang batasan puitis atau ngganya tulisan itu apa sih mif?

mang kalo pake aku indah ya....:p