Memang berat menjadi seorang ibu rumah tangga. Nampak tak ada habis – habisnya gangguan yang harus mereka hadapi dalam menjalankan peran seorang ibu rumah tangga yang baik. Apalagi jika mereka berasal dari kalangan yang ekonominya pas – pasan. Setelah pikiran mereka dipusingkan dengan adanya kenaikan BBM (yang berarti harus memikirkan bagaimana caranya memutar pemasukan yang jumlahnya tetap sementara pengeluaran jumlahnya menaik) serta isu flu burung, kini muncul lagi permasalahan mengenai formalin serta isu mengenai bakso dari daging tikus. Singkirkanlah permasalahan yang terakhir, yang ingin saya soroti disini adalah keresahan ibu – ibu rumah tangga berkaitan dengan permasalahan penggunaan zat pengawet mayat pada makanan.
Pada siaran berita di televisi kita dapat menyaksikan bagaimana ditemukanannya penggunaan zat pengawet mayat pada sejumlah jenis makanan seperti tahu, mi telor, mi baso,ikan asin, ikan laut dll (yang notabene di konsumsi oleh masyarakat menengah ke bawah). Keresahanpun muncul. Timbul kekhawatiran akan adanya bahaya yang ditimbulkan dari bahan makanan yang mereka konsumsi sehari – hari. Membayangkan bahwa zat yang digunakan untuk mengawetkan mayat ternyata dikonsumsi oleh kitapun sudah menjijikan, apalagi jika kita mengetahui bahayanya mengkonsumsi formalin. Sudah tentu ibu – ibu rumah tangga ini ingin melindungi keluarganya dari zat – zat macam ini.
Keresahan inipun dialami oleh Ibu pemilik kost tempat saya tinggal. Ketika saya datang dari purwakarta setelah berlibur beberapa hari, ibu kost saya mencurahkan keresahannya dan menitipkan ‘pesannya’ pada saya.
Ketika itu ia sedang memasak dan saya baru saja memasuki rumah. Setelah basa – basi menyambut kedatangan saya selama beberapa waktu, ia mulai bercerita. Ia mulai ceritanya dengan ‘Nih vet... ibu lagi masak tempe dibumbuin. Sekarang ibu-mah pusing kalau belanja ke pasar. Mau beli ayam takut flu burung, mau beli tahu atau ikan takut formalin, mau masak daging ga boleh sama dokter (ia punya darah tinggi). Jadinya makan tempe tiap hari deh...hehehe’ sambil tertawa kecil ia menunjukkan masakannya padaku. Tak lama kemudian suaminya (bapak kost) datang dan menimpali dengan cerita yang sama. Cerita tentang keresahannya pada makanan – makanan yang mengandung zat pengawet yang berbahaya itu, serta dampak yang mungkin timbul jika mengkonsumsi formalin.
Setelah itu mereka berdua menumpahkan keresahannya pada generasi yang akan datang. Mereka khawatir, karena rata – rata yang mengkonsumsi makanan yang menggunakan pengawet mayat itu adalah masyarakat kecil, yang notabene membeli bahan makanannya di pasar dan bukan di supermarket, yang mungkin mengkonsumsi tahu atau ikan asin tiap hari karena harganya yang murah, yang mungkin tidak peduli akan efek formalin yang penting bisa makan makanan murah, karena pengawetan dengan menggunakan es akan memakan biaya yang tinggi (sebagai perbandingan, biaya pengawetan 10 ton ikan dengan menggunakan formalin hanya memerlukan biaya sebesar 7000 rupiah, sedangkan jika menggunakan es balok bisa mencapai 2 juta rupiah).
Mereka kemudian berkata lebih lanjut : ‘Jika dari kecil saja mereka (generasi penerus maksudnya) sudah mengkonsumsi formalin dan bahan beracun lainnya, kalau sudah besar bisa bahaya. Bisa hilang generasi penerus Indonesia vet’.
Lalu mereka meneruskan ‘curhatannya’ dengan menceritakan kekesalan mereka pada pemerintah, yang mereka anggap sangat bodoh menanggapi masalah formalin ini. Rupanya pemerintah sekarang mengedarkan kertas bebas formalin yang dapat diperoleh para pedagang dengan harga Rp 15 - 25 ribu. Hal ini diketahui ketika bapak kost berbelanja ke pasar. Ia bertanya pada salah seorang pedagang apakah dagangannya bebas formalin atau tidak, dan kemudian pedagang tersebut menunjukkan kertas bebas formalin pada bapak kost, yang kemudian diketahui bahwa pedagang tersebut membelinya seharga 25 ribu, tanpa kita benar – benar tahu apakah dagangannya telah benar melalui pengujian bebas formalin atau hanya sekedar membeli kertas saja. Dalam hal ini saya sepakat. Sampai saat ini saja pemerintah belum mampu melakukan pengawasan terhadap pembelian formalin, ditambah lagi pengawasan terhadap surat bebas formalin ini...haha, bodoh! (anyway, kapan si pemerintah dianggap pintar..-skeptis mode on-)
Pada siaran berita di televisi kita dapat menyaksikan bagaimana ditemukanannya penggunaan zat pengawet mayat pada sejumlah jenis makanan seperti tahu, mi telor, mi baso,ikan asin, ikan laut dll (yang notabene di konsumsi oleh masyarakat menengah ke bawah). Keresahanpun muncul. Timbul kekhawatiran akan adanya bahaya yang ditimbulkan dari bahan makanan yang mereka konsumsi sehari – hari. Membayangkan bahwa zat yang digunakan untuk mengawetkan mayat ternyata dikonsumsi oleh kitapun sudah menjijikan, apalagi jika kita mengetahui bahayanya mengkonsumsi formalin. Sudah tentu ibu – ibu rumah tangga ini ingin melindungi keluarganya dari zat – zat macam ini.
Keresahan inipun dialami oleh Ibu pemilik kost tempat saya tinggal. Ketika saya datang dari purwakarta setelah berlibur beberapa hari, ibu kost saya mencurahkan keresahannya dan menitipkan ‘pesannya’ pada saya.
Ketika itu ia sedang memasak dan saya baru saja memasuki rumah. Setelah basa – basi menyambut kedatangan saya selama beberapa waktu, ia mulai bercerita. Ia mulai ceritanya dengan ‘Nih vet... ibu lagi masak tempe dibumbuin. Sekarang ibu-mah pusing kalau belanja ke pasar. Mau beli ayam takut flu burung, mau beli tahu atau ikan takut formalin, mau masak daging ga boleh sama dokter (ia punya darah tinggi). Jadinya makan tempe tiap hari deh...hehehe’ sambil tertawa kecil ia menunjukkan masakannya padaku. Tak lama kemudian suaminya (bapak kost) datang dan menimpali dengan cerita yang sama. Cerita tentang keresahannya pada makanan – makanan yang mengandung zat pengawet yang berbahaya itu, serta dampak yang mungkin timbul jika mengkonsumsi formalin.
Setelah itu mereka berdua menumpahkan keresahannya pada generasi yang akan datang. Mereka khawatir, karena rata – rata yang mengkonsumsi makanan yang menggunakan pengawet mayat itu adalah masyarakat kecil, yang notabene membeli bahan makanannya di pasar dan bukan di supermarket, yang mungkin mengkonsumsi tahu atau ikan asin tiap hari karena harganya yang murah, yang mungkin tidak peduli akan efek formalin yang penting bisa makan makanan murah, karena pengawetan dengan menggunakan es akan memakan biaya yang tinggi (sebagai perbandingan, biaya pengawetan 10 ton ikan dengan menggunakan formalin hanya memerlukan biaya sebesar 7000 rupiah, sedangkan jika menggunakan es balok bisa mencapai 2 juta rupiah).
Mereka kemudian berkata lebih lanjut : ‘Jika dari kecil saja mereka (generasi penerus maksudnya) sudah mengkonsumsi formalin dan bahan beracun lainnya, kalau sudah besar bisa bahaya. Bisa hilang generasi penerus Indonesia vet’.
Lalu mereka meneruskan ‘curhatannya’ dengan menceritakan kekesalan mereka pada pemerintah, yang mereka anggap sangat bodoh menanggapi masalah formalin ini. Rupanya pemerintah sekarang mengedarkan kertas bebas formalin yang dapat diperoleh para pedagang dengan harga Rp 15 - 25 ribu. Hal ini diketahui ketika bapak kost berbelanja ke pasar. Ia bertanya pada salah seorang pedagang apakah dagangannya bebas formalin atau tidak, dan kemudian pedagang tersebut menunjukkan kertas bebas formalin pada bapak kost, yang kemudian diketahui bahwa pedagang tersebut membelinya seharga 25 ribu, tanpa kita benar – benar tahu apakah dagangannya telah benar melalui pengujian bebas formalin atau hanya sekedar membeli kertas saja. Dalam hal ini saya sepakat. Sampai saat ini saja pemerintah belum mampu melakukan pengawasan terhadap pembelian formalin, ditambah lagi pengawasan terhadap surat bebas formalin ini...haha, bodoh! (anyway, kapan si pemerintah dianggap pintar..-skeptis mode on-)
Setelah sekian lama mereka bercerita dan setelah sekian lama saya hanya mengangguk – angguk saja (hmm,setelah dua jam berada di bus ekonomi primajasa dan ½ jam berada di bus kota yang saya inginkan hanya tempat tidur) akhirnya bapak dan ibu kost itu menitipkan sesuatu pada saya.
Titipan itu dibuka dengan kata – kata : ‘vetri..kamu ini kan anak ITB, punya banyak teman yang pintar–pintar...coba dong dipikirkan masalah ini...’ . Mereka lalu berkata apakah bisa jika teman – teman saya (a.k.a. anak ITB) memikirkan bagaimana caranya agar zat formalin ini bisa dinetralisir atau minimal diminimalisir. Mereka bertanya apakah bisa membersihkan formalin dari suatu bahan makanan dengan cara – cara tertentu, misalnya dikasi cuka kek, atau garam kek, atau bahan alami lainnya. Bahkan bapak kost sampai menganjurkan agar kita (anak ITB) mengadakan seminar khusus untuk membahas hal ini yang kemudian hasilnya disebarluaskan ke masyarakat. Bapak kost kemudian melanjutkan : ‘daripada menunggu pemerintah yang belum tentu becus, mendingan kalian aja bikin solusinya, mumpung isu ini lagi hangat – hangatnya’....yang kemudian ditimpali oleh ibu kost : ‘iya vet, ibu nitip loh..kan anak ITB pinter - pinter’.
Duh,saya langsung tidak bisa berkomentar atau bahkan mengangguk. Dalam hati saya berkata miris ‘iya si bu, anak ITB pintar – pintar...tapi kalau masalah peduli dan mau bergerak untuk menghasilkan sesuau yang konkret itu lain hal.. Mungkin sekarang sebagian besar anak ITB malah tidak merasakan ancaman formalin ini karena kemampuan finansialnya sudah terlampau memadai sehingga tidak perlu membeli bahan makanan murah yang mengandung formalin.’ (hehe, sinisnya ko muncul lagi)
Kemudian dalam hati saya berjanji minimal akan mengatakan titipan bapak dan ibu kost ini kepada anak – anak ITB yang saya kenal. Toh ibu kost benar....generasi penerus kita yang sedang terancam. Tentu saja bahwa rakyat kecil yang mengharapkan makanan murah itu termasuk kedalam kategori generasi penerus kan?? Bahwa bukan anak – anak yang bersekolah di sekolah yang mahal dan bergizi cukup serta berpendidikan yang baik saja yang bisa menjadi generasi penerus.
Eh...iya kan??
2 comments:
wah dah lama ga berkunjung kesini, baca tulisannya...hoho...nanti saya bantu sampaikan kepada para generasi penerus bangsa...=D
saya termauk ga ya...heheheh
eh...iya kannya
menggelitik...sedikit mengiris
Post a Comment