Kalau tak salah, dorama itu sebutan untuk film serial drama jepang. Yah, semacam sinetronlah, tapi versi jepang. Alih – alih mengerjakan Tugas Akhir atau mengerjakan hal bermanfaat lainnya, saya malah menghabiskan waktu saya akhi – akhir ini untuk menonton Dorama. Beberapa film pinjaman dari teman sudah saya tamatkan dalam waktu kurang lebih dua minggu. Nampaknya saya benar – benar menikmati waktu dengan diri sendiri akhor – akhir ini. Take a litle break from reality.
Anyway, dari semua genre film asia seperti film korea, taiwan, mandarin, india, atau film drama asia tenggara (termasuk di dalamnya Indonesia) mungkin saya paling menyukai film drama jepang.
Alasan yang pertama mungkin karena singkat. Jarang sekali saya jumpai dorama jepang yang serialnya lebih dari 20 episode, bahkan di atas 15 episodepun jarang. Tak ada dorama yang episodenya lebih dari 100, sampai dibuat musim ke-5nya, dan sampai orang – orang terheran – heran kapan film ini selesai (remember something?). Ceritanya singkat, tidak bertele – tele namun tetap mengena.
Alasan kedua karena indah dilihat dan didengar. Mungkin yang bagian indah dilihat belum bisa digeneralisir , saya baru menemukan pada beberapa dorama. Contohnya, dorama yang berjudul ‘Saturn Necklace’. Film ini adalah ‘Meteor Garden’ versi Jepang. Ketika pertama kali menontonnya saya merasa agak2 malas, karena saya sudah tahu jalan ceritanya. Tapi film ini benar – benar indah untuk dilihat sampai saya tak bosan. Kameramannya benar – benar tahu mengambil ‘angle’ yang indah untuk dilihat, pun pemilihan lokasi syutingnyapun benar – benar pas dan mendukung suasana. Saya ingat satu adegan, tokoh utamanya sedang duduk di bangku kayu yang panjang, dibelakangnya terdapat satu pohon besar dan suasananya sedang musim gugur, sekelilingnya penuh dengan warna kuning dan coklat, cantik dan indah banget. Keindahan yang sederhana. Atau ketika tokoh utamanya sedang berkelahi, yang terlihat hanya siluet hitam karena di belakangnya ada ‘neon box’ putih yang besar banget (seukuran dinding), biasanya si dipake buat iklan tapi saat itu iklannya sedang diganti. Jadinya menarik banget buat dilihat.
Banyak banget adegan di film itu yang membuat saya bergumam ‘duh, indah banget’.
Begitu pula dengan pemilihan ‘back-sound’nya. Pas, mendukung suasana dan tidak monoton.
Pernah lihat film ‘The Firm’ ? Back-sound di film itu benar - benar mengesalkan sampai saya kehilangan minat untuk menonton di pertengahan film. Yah, buat saya back-sound pada suatu film cukup penting.
Alasan ketiga tentunya karena jalan cerita dan karakter tokohnya. Satu kata yang menggambarkan jalan cerita pada dorama jepang adalah ‘wajar’. Cerita dan karakter tokohnya wajar, layaknya kehidupan seorang manusia sehari – hari. Kalau toh dorama itu bercerita tentang cinta, tetap saja tokoh – tokoh di dalamnya tidak terlepas dari kegiatan mereka sehari – hari, yang harus menghadapai permasalahan – permasalahan lain selain cinta dan membuat keputusan – keputusan di dalam hidupnya. Contohlah film GTO, Gokusen, Pride, Good Luck, News Girl atau Long Vacation. Tokoh – tokohnya tetap dihadapkan pada realita hidup, pekerjaan, usia, atau nilai – nilai yang mereka pegang. Tak perlu ada tokoh antagonis yang jahatnya keterlaluan dan tidak manusiawi untuk menonjolkan peran tokoh utamanya. Karena toh konflik batinnya terasa ketika ia membuat pilihan – pilihan dan melakukan kesalahan, tetapi ia akan belajar dari pilihan dan kesalahannya itu. Satu hal lagi yang membuat saya suka dengan film jepang adalah tokoh dalam filmnya sangat berjuang untuk apa yang dia lakukan. Di setiap film yang saya saksikan, semua tokohnya pada akhirnya memutuskan untuk tidak menyerah dan kemudian mendapatkan apa yang ia inginkan. Terkadang dapat sangat menginspirasikan.
Biasanya ketika memikirkan hal ini saya akan tertegun. Sewajar apapun film, tetap hanya sebatas film. Beda dengan dunia nyata dimana tidak semua dapat dimenangkan, dimana nilai – nilai mungkin hanya ada di atas kertas dan tidak semua proses menghasilkan sesuatu yang indah. Yah, namanya juga dunia nyata..semuanya begitu abu – abu, penuh ketidakpastian, probabilistik dan stokastik,hehe. Begitu sulit menentukan pilihan. Entahlah, entah pilihannya yang begitu abu – abu atau sebenarnya sangat sederhana dan berwarna hitam dan putih namun kita yang tidak memiliki cukup keberanian untuk melakukannya karena lingkungan dan semua keterbatasan yang ada.
Hmm...sometimes simple can be complicated, huh?.
Anyway, dari semua genre film asia seperti film korea, taiwan, mandarin, india, atau film drama asia tenggara (termasuk di dalamnya Indonesia) mungkin saya paling menyukai film drama jepang.
Alasan yang pertama mungkin karena singkat. Jarang sekali saya jumpai dorama jepang yang serialnya lebih dari 20 episode, bahkan di atas 15 episodepun jarang. Tak ada dorama yang episodenya lebih dari 100, sampai dibuat musim ke-5nya, dan sampai orang – orang terheran – heran kapan film ini selesai (remember something?). Ceritanya singkat, tidak bertele – tele namun tetap mengena.
Alasan kedua karena indah dilihat dan didengar. Mungkin yang bagian indah dilihat belum bisa digeneralisir , saya baru menemukan pada beberapa dorama. Contohnya, dorama yang berjudul ‘Saturn Necklace’. Film ini adalah ‘Meteor Garden’ versi Jepang. Ketika pertama kali menontonnya saya merasa agak2 malas, karena saya sudah tahu jalan ceritanya. Tapi film ini benar – benar indah untuk dilihat sampai saya tak bosan. Kameramannya benar – benar tahu mengambil ‘angle’ yang indah untuk dilihat, pun pemilihan lokasi syutingnyapun benar – benar pas dan mendukung suasana. Saya ingat satu adegan, tokoh utamanya sedang duduk di bangku kayu yang panjang, dibelakangnya terdapat satu pohon besar dan suasananya sedang musim gugur, sekelilingnya penuh dengan warna kuning dan coklat, cantik dan indah banget. Keindahan yang sederhana. Atau ketika tokoh utamanya sedang berkelahi, yang terlihat hanya siluet hitam karena di belakangnya ada ‘neon box’ putih yang besar banget (seukuran dinding), biasanya si dipake buat iklan tapi saat itu iklannya sedang diganti. Jadinya menarik banget buat dilihat.
Banyak banget adegan di film itu yang membuat saya bergumam ‘duh, indah banget’.
Begitu pula dengan pemilihan ‘back-sound’nya. Pas, mendukung suasana dan tidak monoton.
Pernah lihat film ‘The Firm’ ? Back-sound di film itu benar - benar mengesalkan sampai saya kehilangan minat untuk menonton di pertengahan film. Yah, buat saya back-sound pada suatu film cukup penting.
Alasan ketiga tentunya karena jalan cerita dan karakter tokohnya. Satu kata yang menggambarkan jalan cerita pada dorama jepang adalah ‘wajar’. Cerita dan karakter tokohnya wajar, layaknya kehidupan seorang manusia sehari – hari. Kalau toh dorama itu bercerita tentang cinta, tetap saja tokoh – tokoh di dalamnya tidak terlepas dari kegiatan mereka sehari – hari, yang harus menghadapai permasalahan – permasalahan lain selain cinta dan membuat keputusan – keputusan di dalam hidupnya. Contohlah film GTO, Gokusen, Pride, Good Luck, News Girl atau Long Vacation. Tokoh – tokohnya tetap dihadapkan pada realita hidup, pekerjaan, usia, atau nilai – nilai yang mereka pegang. Tak perlu ada tokoh antagonis yang jahatnya keterlaluan dan tidak manusiawi untuk menonjolkan peran tokoh utamanya. Karena toh konflik batinnya terasa ketika ia membuat pilihan – pilihan dan melakukan kesalahan, tetapi ia akan belajar dari pilihan dan kesalahannya itu. Satu hal lagi yang membuat saya suka dengan film jepang adalah tokoh dalam filmnya sangat berjuang untuk apa yang dia lakukan. Di setiap film yang saya saksikan, semua tokohnya pada akhirnya memutuskan untuk tidak menyerah dan kemudian mendapatkan apa yang ia inginkan. Terkadang dapat sangat menginspirasikan.
Biasanya ketika memikirkan hal ini saya akan tertegun. Sewajar apapun film, tetap hanya sebatas film. Beda dengan dunia nyata dimana tidak semua dapat dimenangkan, dimana nilai – nilai mungkin hanya ada di atas kertas dan tidak semua proses menghasilkan sesuatu yang indah. Yah, namanya juga dunia nyata..semuanya begitu abu – abu, penuh ketidakpastian, probabilistik dan stokastik,hehe. Begitu sulit menentukan pilihan. Entahlah, entah pilihannya yang begitu abu – abu atau sebenarnya sangat sederhana dan berwarna hitam dan putih namun kita yang tidak memiliki cukup keberanian untuk melakukannya karena lingkungan dan semua keterbatasan yang ada.
Hmm...sometimes simple can be complicated, huh?.
0 comments:
Post a Comment