Terinspirasi oleh tulisan Aliva Sholihat. Ditujukan untuk semua wanita di dunia (ce’ilah..)
Dulu, saya salah seorang yang sangat setuju bahwa seorang wanita yang dikatakan cantik bukanlah wanita yang putih, tinggi, langsing, berambut lurus panjang, dan modis. Dalam kata lain, wanita cantik bukanlah boneka barbie berjalan. Saya setuju bahwa persepsi wanita yang seperti itu hanyalah akan dimanfaatkan oleh industri kosmetik untuk mendapatkan keuntungan sebanyak mungkin. Dengan memanfaatkan wanita yang ingin memiliki kriteria seperti boneka barbie tadi, lahirlah produk – produk pemutih, pelangsing, pelembab, pembersih wajah, penghilang noda (flek hitam or whatever), pencegah kerutan, penghilang lingkaran mata, shampoo untuk jenis rambut yang berbeda, produk – produk supplemen, sampai salon – salon dan klinik kecantikan. Dan bukan hanya biaya dalam jumlah besar yang dikorbankan, terkadang sampai fisik dan mentalpun ikut menderita hanya untuk mengejar gambaran ideal seperti boneka barbie itu.
Lalu mengapa saya katakan dulu?? Karena saat ini saya setuju – setuju saja bahwa wanita yang cantik itu yang putih, tinggi, langsing, berambut lurus panjang, dan modis (walaupun ini bukan gambaran satu – satunya). Kenapa? Karena buat saya cantik dapat diartikan enak untuk dilihat. Dan frase “enak untuk dilihat” ini sangat berkaitan dengan sesuatu pada diri manusia yang tidak dapat dibohongi, yaitu indera.
Sama halnya ketika kita pertama kali mendengarkan musik yang indah, atau mencicipi makanan yang enak, mencium/membaui wangi bunga mawar atau merasakan lembutnya kain sutra, begitu pula ketika kita melihat sesuatu atau seseorang yang cantik, indera kita tidak akan berbohong untuk mengatakan seseorang itu cantik. Kalaupun persepsi mengenai wanita yang cantik itu adalah wanita putih, tinggi, langsing, berambut lurus panjang, dan modis itu benar, kitapun tidak repot – repot memvalidasi semua kriteria di atas dengan kenyataan kan? Kita akan langsung mengatakan yang cantik itu cantik dengan sendirinya tanpa berpikir dan mencocokan kriteria terlebih dahulu, karena indera kita tidak pernah berbohong. Jadi, buat saya, mengatakan seseorang itu cantik akan sama ketika saya mengatakan bahwa matahari yang terbit di suatu pantai atau hamparan sawah di kaki pegunungan atau seekor kupu – kupu hinggap pada setangkai bunga itu indah, indera saya yang akan mengatakan demikian. Tidak perlu ada yang mengajarkan atau memberikan kriteria indah-nya. Nicole Kidman,Tyra Banks (dari golongan kulit hitam) dan Dian Sastropun akan tetap saya katakan cantik sampai kapanpun karena indera saya yang mengatakannya. Dan seorang wanita yang cantik walau sebodoh, se-ga-punya-wawasan, dan se-ga-punya-kepribadian apapun akan tetap saya katakan cantik. Karena yang cantik ya cantik, itu masalah fisik yang ga ada kaitannya dengan apapun. Hal tertarik dengan yang ‘cantik-tapi ga-ada-isinya’ atau menjadikan mereka role model merupakan hal yang berbeda.
Dan karena berkaitan dengan indera, maka kecantikanpun akan berkaitan dengan selera (alah!). Seperti manusia yang senang pada aliran musik yang berbeda – beda dan punya preferensi pada rasa makanan yang berbeda – beda, maka preferensi seseorang pada kecantikanpun akan berbeda – beda (belum dapat dibuktikan juga si, asumsi pribadi). Sebagai contoh saya. Saya tidak suka atau kurang tertarik untuk melihat seseorang, yang walau cantik atau menarik, berambut pirang. Ini juga tidak bisa dijelaskan dengan akal sehat, seperti halnya saya yang tidak suka rasa manis dan lebih memilih rasa pedas, atau saya yang lebih menyukai U2 dan Queen dibandin musik Jazz. Ya..semuanya hanya masalah indera dan selera.
Nah. sekarang yang membuat sakit hatinya kan bukan karena yang cantik itu yang putih, tinggi, langsing, berambut lurus panjang, dan modis. Tapi jika seseorang hanya dinilai (bukan dinilai kali ya, disukai) dari fisiknya saja. Makanan, bunga, pemandangan, atau benda yang lain mungkin dapat dinilai dari satu atribut saja. Tapi manusia?? Kita punya berbagai macam atribut yang membuat satu manusia dan yang lainnya begitu berbeda. Sebagai manusia kita punya akal, pikiran, jiwa, perasaan, hati, naluri, minat, bakat, kecerdasan, serta fisik (atau tampilan luar). Atribut - atribut yang membuat kita begitu kompleks dan tak dapat dilihat dari salah satu sudut pandang saja.
Saya masih percaya Tuhan itu adil, jikalau kita tidak indah di salah satu atribut maka akan ada atribut lain yang menjadi kelebihan dan keindahan kita. Dan saya masih percaya bahwa manusia itu diciptakan pada dasarnya baik, yang menyukai keindahan dan segala sesuatu yang baik. Kalaupun ada seseorang yang menilai kita kurang indah dari segi fisik, berikanlah ia waktu untuk mengenal keindahan kita yang lainnya.
Jadi, biarkanlah yang putih, tinggi, langsing, berambut lurus panjang, dan modis dikatakan cantik. Biarkanlah yang cantik tetap cantik. Biarkanlah kecantikan itu tetap dinilai dari tampilan luar. Dan biarkanlah kecantikan itu hanya menjadi salah satu atribut manusia saja.
Dulu, saya salah seorang yang sangat setuju bahwa seorang wanita yang dikatakan cantik bukanlah wanita yang putih, tinggi, langsing, berambut lurus panjang, dan modis. Dalam kata lain, wanita cantik bukanlah boneka barbie berjalan. Saya setuju bahwa persepsi wanita yang seperti itu hanyalah akan dimanfaatkan oleh industri kosmetik untuk mendapatkan keuntungan sebanyak mungkin. Dengan memanfaatkan wanita yang ingin memiliki kriteria seperti boneka barbie tadi, lahirlah produk – produk pemutih, pelangsing, pelembab, pembersih wajah, penghilang noda (flek hitam or whatever), pencegah kerutan, penghilang lingkaran mata, shampoo untuk jenis rambut yang berbeda, produk – produk supplemen, sampai salon – salon dan klinik kecantikan. Dan bukan hanya biaya dalam jumlah besar yang dikorbankan, terkadang sampai fisik dan mentalpun ikut menderita hanya untuk mengejar gambaran ideal seperti boneka barbie itu.
Lalu mengapa saya katakan dulu?? Karena saat ini saya setuju – setuju saja bahwa wanita yang cantik itu yang putih, tinggi, langsing, berambut lurus panjang, dan modis (walaupun ini bukan gambaran satu – satunya). Kenapa? Karena buat saya cantik dapat diartikan enak untuk dilihat. Dan frase “enak untuk dilihat” ini sangat berkaitan dengan sesuatu pada diri manusia yang tidak dapat dibohongi, yaitu indera.
Sama halnya ketika kita pertama kali mendengarkan musik yang indah, atau mencicipi makanan yang enak, mencium/membaui wangi bunga mawar atau merasakan lembutnya kain sutra, begitu pula ketika kita melihat sesuatu atau seseorang yang cantik, indera kita tidak akan berbohong untuk mengatakan seseorang itu cantik. Kalaupun persepsi mengenai wanita yang cantik itu adalah wanita putih, tinggi, langsing, berambut lurus panjang, dan modis itu benar, kitapun tidak repot – repot memvalidasi semua kriteria di atas dengan kenyataan kan? Kita akan langsung mengatakan yang cantik itu cantik dengan sendirinya tanpa berpikir dan mencocokan kriteria terlebih dahulu, karena indera kita tidak pernah berbohong. Jadi, buat saya, mengatakan seseorang itu cantik akan sama ketika saya mengatakan bahwa matahari yang terbit di suatu pantai atau hamparan sawah di kaki pegunungan atau seekor kupu – kupu hinggap pada setangkai bunga itu indah, indera saya yang akan mengatakan demikian. Tidak perlu ada yang mengajarkan atau memberikan kriteria indah-nya. Nicole Kidman,Tyra Banks (dari golongan kulit hitam) dan Dian Sastropun akan tetap saya katakan cantik sampai kapanpun karena indera saya yang mengatakannya. Dan seorang wanita yang cantik walau sebodoh, se-ga-punya-wawasan, dan se-ga-punya-kepribadian apapun akan tetap saya katakan cantik. Karena yang cantik ya cantik, itu masalah fisik yang ga ada kaitannya dengan apapun. Hal tertarik dengan yang ‘cantik-tapi ga-ada-isinya’ atau menjadikan mereka role model merupakan hal yang berbeda.
Dan karena berkaitan dengan indera, maka kecantikanpun akan berkaitan dengan selera (alah!). Seperti manusia yang senang pada aliran musik yang berbeda – beda dan punya preferensi pada rasa makanan yang berbeda – beda, maka preferensi seseorang pada kecantikanpun akan berbeda – beda (belum dapat dibuktikan juga si, asumsi pribadi). Sebagai contoh saya. Saya tidak suka atau kurang tertarik untuk melihat seseorang, yang walau cantik atau menarik, berambut pirang. Ini juga tidak bisa dijelaskan dengan akal sehat, seperti halnya saya yang tidak suka rasa manis dan lebih memilih rasa pedas, atau saya yang lebih menyukai U2 dan Queen dibandin musik Jazz. Ya..semuanya hanya masalah indera dan selera.
Nah. sekarang yang membuat sakit hatinya kan bukan karena yang cantik itu yang putih, tinggi, langsing, berambut lurus panjang, dan modis. Tapi jika seseorang hanya dinilai (bukan dinilai kali ya, disukai) dari fisiknya saja. Makanan, bunga, pemandangan, atau benda yang lain mungkin dapat dinilai dari satu atribut saja. Tapi manusia?? Kita punya berbagai macam atribut yang membuat satu manusia dan yang lainnya begitu berbeda. Sebagai manusia kita punya akal, pikiran, jiwa, perasaan, hati, naluri, minat, bakat, kecerdasan, serta fisik (atau tampilan luar). Atribut - atribut yang membuat kita begitu kompleks dan tak dapat dilihat dari salah satu sudut pandang saja.
Saya masih percaya Tuhan itu adil, jikalau kita tidak indah di salah satu atribut maka akan ada atribut lain yang menjadi kelebihan dan keindahan kita. Dan saya masih percaya bahwa manusia itu diciptakan pada dasarnya baik, yang menyukai keindahan dan segala sesuatu yang baik. Kalaupun ada seseorang yang menilai kita kurang indah dari segi fisik, berikanlah ia waktu untuk mengenal keindahan kita yang lainnya.
Jadi, biarkanlah yang putih, tinggi, langsing, berambut lurus panjang, dan modis dikatakan cantik. Biarkanlah yang cantik tetap cantik. Biarkanlah kecantikan itu tetap dinilai dari tampilan luar. Dan biarkanlah kecantikan itu hanya menjadi salah satu atribut manusia saja.
14 comments:
hohohoho, comment pertama.
.
emang Vet, cantik itu relatif. jelek itu mutlak. =D
hmmm...tapi "keindahan" itu, persepsi tentang indah itu, 'dibentuk' atau naturally given? Kenapa di suatu suku, yang cantik adalah yang berleher panjang, sehingga perempuannya rela memakai gelang di leher supaya lehernya panjang? atau di cina jaman dulu, yang cantik itu yang mungil-berkaki kecil, hingga perempuannya merasa perlu memakai sepatu selalu dgn no kekecilan, supaya kakinya tetap kecil? hmmm...Apapun kecantikan itu, masalahnya ialah:ketika apapun itu dikomoditisasi, dan perempuan harus 'tersiksa' karenanya kali ya...
ga suka berambut pirang bukan berarti dari naluriah lo, lebih ke alam bawah sadar. kaya'nya lo pernah terepresi ama orang bule, mungkin lo sangat nasionalis dan anti penjajahan. Hehe. soalnya mnrt gw, Reese witherspoon kan cantique buangggeeet.
spt tmn gw yang terepresi ma jilbab, maka dia ga suka orang yang jilbaban.
tapi, menurut gw, penilaian yg paling mulia adalah penilaian fisik. penilaian yang paling mendekati meaningless, jasadi dan alami.
soalnya gini, atribut kaya baik, ramah, setia ,pengertian dan sebagainya adalah atribut artifisial yang gampang banget dirubah, dimodifikasi dan hilang jika kita pengen.
klo bergaul pas smp ma sma, tmn2 ce gw biasanya org2 yang terpinggirkan krn dianggap 'jelek' ama komunitas, sehingga gw pernah menyimpulkan bahwa org2 dianggap 'jelek' ama komunitas, selalu dan senantiasa akan berbuat 'baik' demi menutupi kelemahan mereka, sehingga tiba-tiba muncul istilah cantik 'dalem', cantik 'hati', dsb. mereka yng dianggap komunitas 'jelek' tsb haram hukumnya menjadi jahat, sombong, dsb, sehingga jika demikian, kata yang terucap adalah " udah jelek, belagu, sombong lagi", apalagi klo ditambah miskin.
tp, klo cantik komunitas, pasti ada pemaafaan dengan ujaran 'yah, maklum aja, cantik sih"
karena faktor artifisial inilah akhirnya, kebanyakan orang jelek (komunitas view) di dunia adalah orang-orang baik, dan yang cantik adalah orang yang jahat(sombong, belagu dsbnya).
akhirnya apa? cantik adalah evil. Wanita yang berafiliasi dengan kejahatan adalah wanita cantik, bukan wanita secara keseluruhan cuman gara-gara Eva makan apel, karena Eva pun gw yakin adalah orang wanita cantik.
gw pernah sekali pny tmn deket yang dianggap cantik ama komunitas, justru bagi dia kecantikan juga membawa bencana.Dia sering ngomong " bukan salah gw klo gw cantik". dia sering dituntut juga 'untuk tampil tidak sombong', untuk mau tidak difitnah. lo bayangin aja, tmn gw sering banget difitnah, di kuntit, di lecehin, harus nangis klo mesti nolak org yang dia ga suka. moodnya harus tetp bagus, harus pandai ngrawat badan dan sebagainya dan sebaginya.
dan kesimpulannya adalah ga enak jadi orang jelek, dan jadi orang cantik.
dan lebih ga enak jadi orang biasa aja, ga da tantangan. ga pernah di fitnah, ga pernah di bilang "jelek" dan cuman hidupnya ngalir gitu2 aja.
jadi being cantik dan jelek adalah suatu kehormatan yang membawa realitas 'sinetron' dan 'film' kedalam hidup kita dan itu sangat menakjubkan.
Sekali lagi, lihatlah orang dari fisik, jangan lihat hati. hati itu bisa naik dan bisa turun. bisa baik dan bisa jahat. Tapi,lihat fisik juga harus mantep. jangan terpengeruh oleh komunitas, pengaruh mother complex, pengaruh iklan, bahkan pengaruh operasi plastik.
jangan berikan waktu untuk melihat keindahan lain yang menipu. keindahan perangai, prilaku dan hati.
waktu harus bisa menjawab bahwa keindahan fisik pun masih indah ketika kulit dari orang yang kita kagumi sudah keriput dan berujar kepada dunia " apa jeleknya kulit keriput?"
karena kita yakin bahwa fisik segalanya. klo memang budugan itu cantik ya katakan. klo memang perempuan dengan mata juling itu menakjubkan ya ungkapkan. Jika memang preferensi cantik fisik kita demikian.
Vet, kalo dian sastro itu cantik ato cakep?
pengen euy..hehehe
interesting topic ya
it's such a superficial world out there, isn't it?
tetep aj Vet,kita tetep menganggap nicole kidman, tyra banks dan dian sastro itu cantik bukan karena indera kita.
toh indera itu cuma kumpulan syaraf receptor kan?
mata kita ga bs juga ngebedain mana yg 'enak dilihat' dan mana yg 'ga enak'..
yg beneran enak dilihat ama mata kita ya objek2 yg ga memantulkan cahaya yg intensitasnya ga kurang/berlebihan..as biological as that
klo masalah 'enak dilihat' yg hubungannya dengan cantik/ga cantik mah it'a all in our mind.
dari kecil udah diinternalisasi tuh segala nilai/persepsi ttg cantik itu yg seperti apa.
'kulitnya seputih salju, bibirnya seperti mawar merah', a typical line in any fairy tale kan?
lucunya lagi tokoh dongeng yg cantik itu, pasti jadi tokoh protagonis, yg ditindas ama orang2 yg jelek dan jahat..tipe2 damsell in distress gitu deh
emg otak kita udah dilatih untuk men-conform dengan konsensus sosial bhw cantik itu harus me-refer ke kriteria2 tertentu
bhw penampakan luar seseorang ada korelasinya dengan sifat2 orang itu
*i know it sounds so stupid when i put it this way, tp nyatanya persepsi2 kaya gitu udah segitu terpatrinya di pikiran kita, sampe2 udah jadi kaya refleks*
kemana aja mbak =)
nah sekarang apakah cantik itu akhirnya memang cantik ,atau ada suatu ide tentang cantik itu sendiri, sehinga muncullah suatu premis tentang cantik itu relatif, jelek mutlak..
tapi pepatah orang minamg mengatakan:
"condong mato ka nan rancak, condong salero ka nan lamak"...
o ya klo ada waktu kunjungi blog gw ya vet..Febri (ma 02)
nimbrung ah..
koq saya merasa tulisan ini sinis ya? serius nih vet opini ttg cantiknya?
*ttp ngerasa sinisme
aloha vet..
pa kabar dunia
Whoo..adrenalin gue langsung naik baca comment anonymous yang panjang banget itu..Dangkal dan g jelas banget sihh..!!
Sifat yang artifisial sama yang alami jelas beda lah..
Cantiknya cewe sama gantengnya cowo itu buktinya beda..
Ada cowo yang tampang biasa tapi karismatik..(misal..) dll.
Jadi, kalo apa2 patokannya fisik..Kemana larinya hati?
Fisik mah udah kodrat. Tapi sama sekali gak berkait sama sifat..Ada yang cantik/jelek tapi jahat..ada juga yang baik..
Gimana cara kamu nilai orang mencerminkan nilai kamu sendiri sebenarnya..
Untuk itu, gua bilang sang anonymous di comment ini dangkal..whahahaha
Pake nurani doowng..
Ups, punten jadi marah2..Maklum udah lama ga rapat..
woi, blog lu di update dong.
Duh. pas gw nulis tulisan ini ga nyangka bakal dapet comment sebanyak ini,hehe...
Anyway,walaupun telat gw mo sedikit menambahkan (atau pembelaan ya?). Kenapa gw nulis tulisan ini bukan ingin meluruskan definisi cantik yang ada. Buat gw, tiap orang pasti punya definisi cantik sendiri, mau persepsi tentang cantik itu 'bentukan' atau yang lain. Dan dengan memiliki persepsi tentang cantik dengan sendirinya kita mengakui bahwa di dunia ini ada orang - orang yang cantik dan ada yang kurang cantik.
Dan ga masalah kalo ada yang cantik ato kurang cantik (secara fisik ya). Sekali lagi, gw tetep yakin kalo manusia itu bukan cuma dinilai dari fisiknya, pasti ada kecantikan yang lain yang diberikan oleh yang di atas (tuh kan, gw malah ngulang tulisan gw). Dan untuk meyakini hal itu ternyata ga segampang kedengarannya, ga segampang menuliskannya di atas kalimat (hehe,buat gw doang kali ya). Karena seharusnya implementasi dari gw yang percaya seharusnya seorang manusia tidak dinilai dari kecantkan fisiknya saja, adalah seseorang yang bisa memahami dan menerima keadaan dirinya sendiri dan bahagia dengan itu. Tapi entah kenapa ternyata ga segampang itu, ternyata ingin diakui di masyarakat itu pasti dorongan yang ada di tiap manusia(yupe, dan itu termasuk dorongan ingin dikui secara fisik), dan menghilangknnya ga segampang dengan menuliskan sebuah kalimat atau tulisan. And I'll have to learn to accept that.
Dan jadinya gw bikin tulisan itu bukan untuk meredefinisi makna cantik, cuma sekedar untuk meyakinkan diri sendiri aja, tentang apa yang gw percayai.
So,fine with me if you have another definition with beauty. Hey, it's a free country,right! (naooonn coba)
have a great life everyone!!
ah ikutan ah!, gw mau yg cantik2 donk vet! alamiah ni! kekeke
hwehehe...cantik cantik cantik. alah, klo ngomongin subjektivitas...well, pasti udah gak subjektip lagi karena semua orang sudah di'frame'kan ama propaganda media ato apalah itu...memang (termasuk gw! Hwahhaakk!! not denying gini),
Minimal, it's what we believe, kenapa pengen punya tubuh langsing n kulit putih, apa cuma ingin dianggap cantik oleh skitaran, ato karena kita ngerasa 'gw butuh merasa fit n cantik', klo dah gak ngerasa fit, yang gak usahlah ikut2an diet2an, klo dah merasa kepucatan, tak usah jugalah ikut2an. ngapain tho. anyway, kemaren dulu nonton discovery channel yang ngeliatin riset mengenai orang cantik. ternyata ada ukuran2nya lho. "ukuran yang kata orang banyak, cantik" yakni 1 : 1.677...untuk SEMUA part of body. terbukti. :D. Hebat skali. Daripada komen kebanyakan, Jadi pengen nulis sendiri...gih mampir! Yuuuuukk....
hahaha...bener tuh brit..
dan setau gw, yang memenuhi kriteria itu cuma patung dewi Venus de Milo, yang kata orang patung wanita tercantik di dunia..
tapi ada pendapat yang lebih mengherankan lagi...venus de milo itu cantik karena kemisteriusannya. karena patung tsbt ga punya tangan makanya orang membayangkan bagaimana bentuk tangannya, dan hal tersebut yang membuat orang tertarik. heheh, ada2 aja...
Post a Comment