Saya mengalami 3 hari yang menarik di Jakarta. Bertemu dengan orang – orang yang unik dan mendengarkan pengalaman – pengalaman mereka. Sungguh menyenangkan.
**
Namanya Pak Santanu. Posisinya Wira Penjualan Pertamina, entah wilayah mana. Dulu ia kuliah di Trisakti, jurusan teknik mesin. Sebelumnya ia sempat bekerja sebentar di Bank Danamon. Mukanya mengingatkan saya pada guru bahasa Indonesia saya di SMU, Pak Rusidi.
Kalaulah ada polling pemilihan ‘orang dewasa yang menyenangkan’ tentu saya akan memilih dia. Orangnya ramah dan baik hati. Bukan keramahan yang dibuat – buat, saya rasa memang kesehariannya seperti itu. Bahkan dengan supirnya sendiri ia pun sering bercanda layaknya pada temannya.
Sikapnya jujur, jika ia merasa salah maka ia akan meminta maaf, bahkan kepada kami yang notabene bukan apa – apa. Pun dengan rendah hati ia mengajari kami bagaimana cara berkomunikasi saat survey. Saat saya dan teman saya sudah merasa letih untuk melakukan survey, ia tetap bisa menghibur kami dengan komentar – komentarnya tentang kota Jakarta. Saat ada hal – hal yang tidak menyenangkan terjadi, ia masih bisa mentertawakan keadaan itu. Hebat! Untuk bersabar, bahkan mentertawakan keadaan yang tidak enak buat saya bukan hal mudah. Teorinya sih gampang, tapi untuk pelaksanaannya mungkin saya membutuhkan pengalaman 10 tahun lagi.
**
Namanya Ibu Muryati. Semenjak tahun 1968 ia telah menjafi seorang agen minyak tanah. Ia telah memiliki 3 cucu. Anak – anaknya pun ada yang mengikuti jejaknya menjadi seorang agen. Ia bercerita, dulu masih jarang orang yang mau mengelola pangkalan minyak tanah (seperti sub-agen - red). Maka ia berkeliling dari tempat ke tempat di jakarta, menawarkan orang – orang agar mengelola pangkalan minyak tanah. Bahkan ia meminjami orang tersebut modal.
Hampir 40 tahun berlalu, kini jerih payahnya terbayar. Walaupun rumahnya tidak semegah rumah – rumah di sinetron di televisi, tapi rumahnya dipenuhi oleh pekerja yang sangat menghormati dia. Ia berhasil membuat orang senang bekerja dengannya. Hubungan kerjanya dengan pemilik pangkalan dan para pekerjanya sudah berlangsung puluhan tahun dan masih terus akan berlanjut.
Sempat ia berkata kepada kami bahwa dalam bekerja yang penting itu cinta pada pekerjaan, maka kesusahaan apapun dapat dirintangi. Dalam hati saya tertegun. Memang benar ia seorang yang sangat mencintai pekerjaannya, semua yang ia miliki kini ia bangun satu persatu atas dasar kecintaannya. Sungguh, jika engkau bisa melihat wajahnya maka engkau akan mendapati wajah seorang wanita tua yang berbahagia. Sedangkan saya ?entah semenjak kapan kecintaan akan pekerjaan tidak lagi menjadi prioritas dalam hidup saya. Melihat ia, seorang wanita berusia di atas 60 yang masih semangat untuk belajar menjadi agen LPG membuat saya bertanya – tanya, apa yang dapat membuat saya semangat sepertinya ya. Sungguh suatu pertanyaan yang membutuhkan jawaban.
**
Namanya Pak Rusli Autad. Ia tinggal di daerah dengan penduduk berpenghasilan menengah ke bawah. Daerah tempat orang – orang mendapatkan penghasilan dari hasil mengumpulkan botol – botol bekas. Saat ini ia adalah seorang pemilik pangkalan minyak tanah. Ia memulai usahanya dari tahun 1960an, dari saat ia menjadi seorang tukang minyak keliling. Tidak, ia tidak kaya. Rumahnya sederhana saja, walau dapat dibilang di daerah itu ia termasuk orang yang berkecukupan (mau parameternya? Gampang saja, karena ia memasak menggunakan kompor gas). Dan untuk mencapai titik dimana ia berada saat ini ia harus mengalami berbagai cobaan. Ia harus drop out dari sekolahnya, ia telah beberapa kali ditipu sehingga modalnya untuk berjualan minyak tanah ludes sehingga ia harus berhutang, beberapa kali pekerjanya dibajak orang dan hampir saja usahanya habis diteror oleh massa ketika terjadi kelangkaan minyak tanah.
Namun, yang paling menarik darinya adalah ia menceritakan semua hal ini dengan rasa bangga dan berapi – api. Ia sangat bangga ketika menceritakan bahwa jasa dari pedagang minyak tanah keliling ini sedikit banyak memajukan penduduk jakarta. Karena, semenjak dahulu baik panas maupun hujan para pedagang keliling ini tak pernah berhenti untuk berjualan minyak, dan itu terjadi pada saat kondisi tanah di jakarta belum diaspal seperti saat ini. Ia sangat bangga menceritakan bahwa ia mampu bangkit dari kerterpurukannya setelah ditipu orang.
Dan lagi – lagi hal itu membuat saya tertegun.
Dia, seorang tukang minyak, yang mungkin penghasilannya lebih rendah dari orangtua kalian dapat dengan bangga menceritakan kisah hidupnya,layaknya ia seorang pemenang. Entah kapan, tapi suatu saat nanti saya akan meninggalkan dunia ini. Dan ketika melihat orang tua ini, saya jadi hanya menginginkan satu hal saja. Ketika tiba harinya nanti..ketika saya ditanya oleh Tuhan apa yang telah saya lakukan selama hidup, saya ingin menjawab dengan kebanggaan yang sama dengan orang tua itu tentang apa yang telah saya lakukan.
**
Namanya Pak Munawar. Mungkin dia tokoh antiklimaks dalam kisah kali ini. Benar – benar tidak bisa dijabarkan dengan kata – kata. Sepanjang survey kami sering dibuat kesal dan tertawa olehnya. Tapi jika dipikir – pikir, mungkin kami belum diberi kesempatan saja untuk mengenalnya lebih jauh. Saya rasa setiap orang juga punya kisah yang tak kalah mengagumkannya dengan ketiga tokoh yang sebelumnya. Punya suatu hal yang juga dapat dikagumi oleh yang lain.
Wow, life is so amazing!.
**
Namanya Pak Santanu. Posisinya Wira Penjualan Pertamina, entah wilayah mana. Dulu ia kuliah di Trisakti, jurusan teknik mesin. Sebelumnya ia sempat bekerja sebentar di Bank Danamon. Mukanya mengingatkan saya pada guru bahasa Indonesia saya di SMU, Pak Rusidi.
Kalaulah ada polling pemilihan ‘orang dewasa yang menyenangkan’ tentu saya akan memilih dia. Orangnya ramah dan baik hati. Bukan keramahan yang dibuat – buat, saya rasa memang kesehariannya seperti itu. Bahkan dengan supirnya sendiri ia pun sering bercanda layaknya pada temannya.
Sikapnya jujur, jika ia merasa salah maka ia akan meminta maaf, bahkan kepada kami yang notabene bukan apa – apa. Pun dengan rendah hati ia mengajari kami bagaimana cara berkomunikasi saat survey. Saat saya dan teman saya sudah merasa letih untuk melakukan survey, ia tetap bisa menghibur kami dengan komentar – komentarnya tentang kota Jakarta. Saat ada hal – hal yang tidak menyenangkan terjadi, ia masih bisa mentertawakan keadaan itu. Hebat! Untuk bersabar, bahkan mentertawakan keadaan yang tidak enak buat saya bukan hal mudah. Teorinya sih gampang, tapi untuk pelaksanaannya mungkin saya membutuhkan pengalaman 10 tahun lagi.
**
Namanya Ibu Muryati. Semenjak tahun 1968 ia telah menjafi seorang agen minyak tanah. Ia telah memiliki 3 cucu. Anak – anaknya pun ada yang mengikuti jejaknya menjadi seorang agen. Ia bercerita, dulu masih jarang orang yang mau mengelola pangkalan minyak tanah (seperti sub-agen - red). Maka ia berkeliling dari tempat ke tempat di jakarta, menawarkan orang – orang agar mengelola pangkalan minyak tanah. Bahkan ia meminjami orang tersebut modal.
Hampir 40 tahun berlalu, kini jerih payahnya terbayar. Walaupun rumahnya tidak semegah rumah – rumah di sinetron di televisi, tapi rumahnya dipenuhi oleh pekerja yang sangat menghormati dia. Ia berhasil membuat orang senang bekerja dengannya. Hubungan kerjanya dengan pemilik pangkalan dan para pekerjanya sudah berlangsung puluhan tahun dan masih terus akan berlanjut.
Sempat ia berkata kepada kami bahwa dalam bekerja yang penting itu cinta pada pekerjaan, maka kesusahaan apapun dapat dirintangi. Dalam hati saya tertegun. Memang benar ia seorang yang sangat mencintai pekerjaannya, semua yang ia miliki kini ia bangun satu persatu atas dasar kecintaannya. Sungguh, jika engkau bisa melihat wajahnya maka engkau akan mendapati wajah seorang wanita tua yang berbahagia. Sedangkan saya ?entah semenjak kapan kecintaan akan pekerjaan tidak lagi menjadi prioritas dalam hidup saya. Melihat ia, seorang wanita berusia di atas 60 yang masih semangat untuk belajar menjadi agen LPG membuat saya bertanya – tanya, apa yang dapat membuat saya semangat sepertinya ya. Sungguh suatu pertanyaan yang membutuhkan jawaban.
**
Namanya Pak Rusli Autad. Ia tinggal di daerah dengan penduduk berpenghasilan menengah ke bawah. Daerah tempat orang – orang mendapatkan penghasilan dari hasil mengumpulkan botol – botol bekas. Saat ini ia adalah seorang pemilik pangkalan minyak tanah. Ia memulai usahanya dari tahun 1960an, dari saat ia menjadi seorang tukang minyak keliling. Tidak, ia tidak kaya. Rumahnya sederhana saja, walau dapat dibilang di daerah itu ia termasuk orang yang berkecukupan (mau parameternya? Gampang saja, karena ia memasak menggunakan kompor gas). Dan untuk mencapai titik dimana ia berada saat ini ia harus mengalami berbagai cobaan. Ia harus drop out dari sekolahnya, ia telah beberapa kali ditipu sehingga modalnya untuk berjualan minyak tanah ludes sehingga ia harus berhutang, beberapa kali pekerjanya dibajak orang dan hampir saja usahanya habis diteror oleh massa ketika terjadi kelangkaan minyak tanah.
Namun, yang paling menarik darinya adalah ia menceritakan semua hal ini dengan rasa bangga dan berapi – api. Ia sangat bangga ketika menceritakan bahwa jasa dari pedagang minyak tanah keliling ini sedikit banyak memajukan penduduk jakarta. Karena, semenjak dahulu baik panas maupun hujan para pedagang keliling ini tak pernah berhenti untuk berjualan minyak, dan itu terjadi pada saat kondisi tanah di jakarta belum diaspal seperti saat ini. Ia sangat bangga menceritakan bahwa ia mampu bangkit dari kerterpurukannya setelah ditipu orang.
Dan lagi – lagi hal itu membuat saya tertegun.
Dia, seorang tukang minyak, yang mungkin penghasilannya lebih rendah dari orangtua kalian dapat dengan bangga menceritakan kisah hidupnya,layaknya ia seorang pemenang. Entah kapan, tapi suatu saat nanti saya akan meninggalkan dunia ini. Dan ketika melihat orang tua ini, saya jadi hanya menginginkan satu hal saja. Ketika tiba harinya nanti..ketika saya ditanya oleh Tuhan apa yang telah saya lakukan selama hidup, saya ingin menjawab dengan kebanggaan yang sama dengan orang tua itu tentang apa yang telah saya lakukan.
**
Namanya Pak Munawar. Mungkin dia tokoh antiklimaks dalam kisah kali ini. Benar – benar tidak bisa dijabarkan dengan kata – kata. Sepanjang survey kami sering dibuat kesal dan tertawa olehnya. Tapi jika dipikir – pikir, mungkin kami belum diberi kesempatan saja untuk mengenalnya lebih jauh. Saya rasa setiap orang juga punya kisah yang tak kalah mengagumkannya dengan ketiga tokoh yang sebelumnya. Punya suatu hal yang juga dapat dikagumi oleh yang lain.
Wow, life is so amazing!.
1 comments:
wah...postingan baru..kemana aja nie..
kangen baca tulisannya
tapi bukankah kemaren kita ketemu di Pasar Seni ya?hehehhe
Post a Comment