Recent Posts

Sunday, January 20, 2008

Sepakbola

Salah satu hal yang selalu membuat saya heran sekaligus kagum di saat yang bersamaan adalah “kecintaan” seseorang akan sepakbola atau kecintaan seseorang akan klub favoritnya. Cabang olahraga lain boleh memiliki penggemar. Namun, jika berbicara tentang keanehan, buat saya tak ada yang bisa mengalahkan para football maniac.

Para pecinta sepakbola ini tak cukup jika hanya melihat timnya menang atau berjaya. Perlu bagi mereka untuk membagi perasaannya dengan orang lain. Lihatlah SMS-SMS yang mereka kirimkan ke tabloid Bola atau koran Pikiran Rakyat, tak jarang SMS itu akan membuat saya tersenyum sendiri.

Bukan kata-katanya yang memancing senyum, tapi emosi yang terkandung di dalamnya. Ada yang memuji tim mereka, ada yang menghujat tim saingannya, ada yang sekedar mendukung pemain favoritnya atau sekedar berkomentar tantang sepakbola itu sendiri.

Tapi, dari semua sms atau surat yang dikirimkan, dari yang paling sederhana sampai yang paling penuh analisis, terkandung emosi di dalamnya. Ada perasaan ingin mengatakan kepada seluruh dunia bahwa timnyalah yang terbaik. Entah itu seorang anak SD di sudut desa Cipeundey atau pengusaha galangan kapal di ujung kota Liverpool, semua tak kalah dalam membela jagoannya.

Yang saya tak mengerti adalah: mengapa sepakbola?

Jika berbicara tentang ketegangan, menyaksikan F1 dan Grand Prix-pun tak kalah menegangkannya. Namun, saya kira tak ada penggemar yang beremosi-emosi ria sambil mengatakan “Ayo Rossi bantai semua lawanmu! Stoner ga ada apa2nya dibandingkan kamu”.

Kalau soal kolektivitas, basket juga permainan yang sangat membutuhkan kerjasama tim. Dua detik dalam basket dapat mengubah hasil pertandingan. Karena itu peran semua posisi menjadi penting. Tak kan ada kemenangan tanpa strategi dan kolektivitas. Halah, kenapah malah ceramah?

Okey, balik ke topik utama.

Bagi saya hal ini terjadi mungkin karena sepakbola yang tak hanya hidup di lapangan. Tak bisa dipungkiri, menyaksikan intrik dan perseteruan yang terjadi di balik layar sudah seperti menyaksikan sinetron atau telenovela. Sedang cerita yang beredar di cabang olahraga lainnya paling-paling hanya berputar di masalah doping dan prestasi. Berbeda dengan sepakbola.

Ada permusuhan. Ada kesetiaan. Ada arogansi. Ada uang. Ada pengkhianatan. Ada impian.

Ada emosi di sana.

Penonton telah merasa menjadi bagian dari intrik tersebut. Merasa bahwa mereka memiliki pendapat yang bisa memajukan klub. Bahwa sebagai fans mereka pun memiliki hak untuk didengarkan aspirasinya oleh para petinggi klub. Bah, sudah seperti sistem demokrasi saja sepakbola ini.

Tapi ini memang terjadi. Lihat reaksi pendukung Chelsea ketika Mourinho dipecat, atau reaksi suporter Persib ketika Nyek Nyobe dipinjamkan dan di ganti Leo Chitescu. SMS bermunculan. Berbagai spanduk pun dibentangkan. Intinya satu: ingin pendapatnya didengarkan.

Yah, ini hanya pandangan selintas saja. Sampai saat ini saya masih belum menemukan jawabannya. Kenapa sepakbola bisa menjadi candu. Kenapa saya sampai rela bangun di tengah malam untuk nonton Liga Champion padahal besok paginya ada testing. Kenapa orang-orang mengirimkan sms-sms gila. Kenapa sampai ada kerusuhan antar suporter. Kenapa....kenapa....kenapa.............

Anybody cares for an answer?

2 comments:

Anonymous said...

Wuihh,,udah lama g denger kabar dr lu Vet :D
Pkbr nih? Skrg lg sibuk apaan?
Kok,,ujug2 ngbahas bola?! Kynya lu emg kerja di PR trus yg nulis ttg sport khususnya bola y:D hehe

Trian Hendro A. said...

waaah... ini bukan karena Pelita Purwakarta masuk 8 besar kan vet? hehe

welcome back vet, keep blogging.. :)