Recent Posts

Wednesday, January 23, 2008

Slamet

Slamet adalah teriakan, katanya.*
Di tengah detak jantung Pak Harto
Slamet adalah gugatan, katanya


**
Apa ya arti kematian seorang Slamet buat saya? Dua hari ini pertanyaan itu kerap muncul di otak saya. Di tengah-tengah era media konvergensi seperti ini, kematian seorang Slamet terasa begitu mudah berlalu. Berita kematiannya dengan cepat dikalahkan dengan berita ditemukannya mayat yang dimutilasi atau berita anjloknya nilai Indeks Harga Saham Gabungan.

Ketika Pa Budhiana, Wapemred PR, di pelatihan jurnalistik, bercerita tentang media konvergensi dan kemutakhiran teknologi informasi saat ini, saya hanya bisa bengong. Saya terkejut dan kagum. Betapa persaingan media massa akan menjadi sedemikian ketatnya. Koran bersaing dengan TV, TV dengan Internet, Internet dengan SMS-mobile phone, semua membentuk lingkaran. Media akan hadir di tengah-tengah masyarakat 24x7x365. Ah, sungguh menyilaukan mata saja.

Tapi saya belum tahu apa dampaknya nanti. Apakah standar nilai informasi itu sendiri akan naik?
Saya teringat dengan tsunami yang terjadi di akhir tahun 2004. Jumlah korban bencana itu begitu fantastis. Lebih dari seratus ribu orang. Belum lagi bicara kerusakan yang ditimbulkan. Dashyat. Saya ingat setiap media begitu intens mengabarkannya.Tapi, ketika itu tsunami tak hanya mengambil nyawa orang. Ia juga mengambil sebagian sensitivitas dari diri saya. Ketika terjadi bencana alam di Papua ,Yogya dan daerah lainnya saya sudah mulai terbiasa. Walau tetap berdoa untuk mereka tapi jumlah korbannya tak lagi menggetarkan hati.

Padahal saya sedang membicarakan nyawa manusia.

Pun ketika tayangan berita-berita kriminal sedang banyak-banyaknya. Mereka juga mengambil sebagian sensitivitas saya lagi. Kabar seorang adik yang membunuh kakaknya saya anggap angin lalu. Apalagi kabar tentang kebakaran. Singgah sebentar untuk kemudian dilupakan.

Padahal saya sedang membicarakan nyawa manusia.

Maka di era media konvergensi ini saya takut sisa sensitivitas dalam diri saya akan kembali diambil. Berbagai berita dari seluruh penjuru dunia datang silih berganti. Tak mengenal waktu, tak mengenal ruang. Di dunia seperti itu teriakan Slamet berubah menjadi desahan. Tak lebih dari 1 detik. Lalu hilang.

*Slamet, Goenawan Mohamad, Majalah Tempo edisi Januari 2007.

1 comments:

viar said...

wah vetri produktif sekarang...

Btw tulisannya PR banget yak :D