Kemarin pagi saya mendapatkan telepon dari bank niaga. Dari salah satu sales asuransinya tepatnya. Saya sendiri sebelumnya sudah tahu mengenai adanya sales asuransi yang sering menghubungi karyawan-karyawan baru PR. Tapi, karena malas, sudah beberapa kali saya menolak untuk menerima telepon dari sales niaga ini. Ternyata ia cukup konsisten juga. Nah, berhubung pagi itu saya sedang ingin iseng dan saya sudah malas menghindar, saya terima saja teleponnya.
Sales ini memperkenalkan diri dengan nama Daniel lalu meminta waktu sebentar. Saat saya tanya berapa lama, ia menjawab sekitar lima menit. Tanpa dikomando lagi, mulailah sales ini menyerocos mempromosikan produknya. Saya sendiri hanya meng-"mmh"-kan saja setiap perkataannya sambil sesekali bertanya.
Mulai di pertengahan, saya sudah tidak dapat menyimak perkataan mas daniel ini lagi. Saya ulangi: tidak dapat menyimak dan bukan tidak mau menyimak. Semakin lama, ia berbicara semakin cepat dan semakin tidak jelas. Memang, sesekali ia menyantumkan nama saya dalam kalimatnya (cth: bla....bla...bla...begitu ya bu vetri). Tapi saking cepatnya, saya tidak mengerti apa yang ia ucapkan. Boro-boro mengingat produknya, ngerti apa yang dia ucapkan saja tidak.
Seketika saya stop dia. Saya tanyakan apa tidak ada brosur yang dikirimkan atau iklan di website saja untuk saya baca. Saya jujur saja pada mas daniel ini kalau saya tidak menangkap sama sekali apa yang dari tadi ia omongkan. Jawabannya adalah: "ya ini promosi baru dari jakarta, bla...bla..bla (mulai lagi tidak jelasnya)" dan ia kembali nyerocos soal produknya.
Yo wiss...saya biarkan saja dia berbicara. Mode "mmh" saya aktifkan kembali.
Nah, sambil asik ber-mmh-mmh- ria, tiba-tiba mas daniel ini dalam suara rendah, kecepatan tinggi, berkata:"bla..bla..bla...jadi saya aktifkan ya bu asuransinya?"
Spontan saya jawab: "haa??", dan setelah beberapa detik: "ya ngga dong!!"
Dan orang ini, dengan luar biasa tenangnya, bisa-bisanya bertanya: "kenapa ngga?"
Dalam hati: "yang boneng aje! Gw aja ga ngerti dari tadi lu ngomong apa, masih nanya lagi kenapa gw ga mau". Untungnya masih pagi dan otak serta emosi masih sedikit segar, jadinya dengan santai saya bilang kalau saya sudah punya asuransi.
Jawab mas daniel lagi:"Asuransi ini kan safety..bla..bla..bla..bla (mode suara rendah kecepatan tinggi)...bla..bla..bla...jadi saya aktifkan ya bu asuransinya?"
Hah sudahlah...saya bilang dengan tegas tidak terimakasih dan saya tutup telepon seketika.
***
Jujur saja saya bingung melihat mode penawaran asuransi seperti itu. Dengan logika pun saya bisa tahu, kalau hanya via suara, tidak mungkin orang bisa menangkap dengan benar produk yang ditawarkan. Nah, kalau tiba-tiba disergap dengan pertanyaan: "jadi saya aktifkan ya asuransinya?", bukannya tidak adil terhadap konsumen?
Atau taruhlah ada seorang konsumen yang benar-benar ingat apa yang dikatakan oleh sales tersebut. Apa jaminannya jika yang dikatakan sales sama dengan apa yang diterima? Toh, konsumen tidak punya rekaman suara telepon untuk dijadikan pegangan kalau terjadi apa-apa.
Dengan segala hormat pada profesi salesman, saya rasa ini bukan sistem yang baik untuk dijalankan.
2 comments:
hahaha..sama percis ma pengalaman gw, vet..bank niaga juga lagi..bank ini emang paling rajin promo via telpon..
tapi bedanya gw lebih dodol daripada lo, vet..
krn gw masih terus ber-'ya..ya..' sampe dia nanyain mo diaktifin asuransinya..
hahaha..bodohnya gw..
walhasil setelah sadar, gw cari macem2 alesan untuk nolak dgn tanpa menyakiti hati si sales..hehehe :D
ahahahahahahhhhh...
sama dong, semua ditodong satu2..
padahal gw dah ganti no.HP
eh, keukeuh nelepon ke rumah.
Dah ditolak ma nyokap gw, eh nelpon ke kantor..
kaga ada matinye!!
Post a Comment