Ada sesuatu yang indah yang saya temukan di buku “To Kill A Mockingbird”. Namanya komunitas. Saya menemukannya dari gambaran hidup rukun bertetangga (halah) yang diciptakan oleh Harper Lee di buku ini. Ada si kecil Scout yang bermain di halaman Miss Maudie. Ada Atticus yang mengundang Walter Cunningham untuk makan bersama. Ada Jem yang membacakan buku untuk Mrs. Dubose. Ada Miss Stephanie yang selalu bergosip. Saking dekatnya, bahkan semua penduduk Maycomb saling mengenal satu sama lain hingga taraf mengenali suara dari telepon. How often you meet something like that in our daily life?
Gambaran itu mengingatkan saya pada lingkungan tempat tinggal saya di Purwakarta. Mengingatkan saya pula pada kehidupan masa kecil saya. Ada keluarga Eman yang air sumurnya sering kami mintai jika ledeng dirumah mati. Ada keluarga Johan yang membantu merapikan rumah kami, saat kebanjiran. Ada tante Bedah yang tiap sore sudah berdandan cantik lalu lewat depan rumah, entah mau pergi kemana. Ada pula Uwak RW yang tiap agustusan sibuk mengkoordinir anak-anak sekampung untuk beraksi di depan panggung. (Saya termasuk salah satu korbannya. Tiap tahun ada saja puisi yang sudah ia siapkan untuk saya). Yah, tidak kalah lah kalau dibandingkan dengan penduduk Maycomb.
Tapi, beranjak dewasa, saya merasakan semakin tercabut dari lingkungan tempat tinggal. Saat masuk SMA, berbagai aktivitas menyibukkan saya, sehingga tak sempat lagi main bersama tetangga. Apalagi waktu kuliah. Hampir lima tahun tinggal di Muararejeun, saya bahkan tak tahu siapa tetangga di samping kost. Orang-orang di lingkungan sekitar yang cukup dekat dengan saya, cukup dekat dalam artian sering menyapa kalau kebetulan ketemu, hanya ibu warung, mas bakso, mas sate ayam, mas nasi goreng, mas ayam krispi dan beberapa pedagang lainnya. Perbincangan pun hanya seputar: “Mudik kemana mas?”, “Anaknya berapa?” atau perbincangan ringan lainnya.
Terkadang terasa menyedihkan. Ko bisa tidak kenal dengan tetangga sendiri.
Di otak saya, banyak pembenaran untuk hal ini. Saya bisa mengatakan kalau saya bukan tercabut sepenuhnya dari sesuatu yang bernama komunitas ini. Toh saya menemukannya di kampus, di tempat kerja, di tempat baca buku, atau di tempat lain. Atau alasan yang ini: komunitas itu sekarang sudah berubah bentuk, bukan hanya ada di dunia nyata, di dunia maya pun ada. Ada Friendster, Facebook, GoodReads, MySpace, milis, blog, YM, forum, atau berbagai website jejaring. Semuanya menawarkan fasilitas untuk membangun komunitas.
Tapi, pembenaran tetaplah pembenaran. Kenyataannya, saya semakin menjadi seorang yang anti-sosial. Saya lebih memilih untuk duduk di depan komputer berjam-jam, berhubungan dengan komunitas maya, dibanding pergi ke sebelah rumah dan bermain dengan anak tetangga yang baru lahir.
Saya pikir ini semua karena berhubungan dengan layar komputer lebih mudah. Kalau saya sedang tidak mood, saya tinggal menyalakan mode invisible atau tinggal offline. Atau, tinggal bersembunyi di balik emoticons kalau tiba-tiba menyinggung orang lain atau kalau tersinggung. Separah-parahnya, tinggal matikan saja komputernya kalau menemukan hal yang tidak enak.
Berhubungan dengan manusia asli itu lebih sulit. Ada mimik dan ekspresi muka yang terbaca. Ada emosi nyata yang harus dihadapi. Jem Finch saja harus menahan diri selama sebulan saat membacakan buku untuk Mrs. Dubose yang sering berkata-kata kasar. Susah.
Yah, sebenarnya ini bukan masalah baru. Bahwa manusia semakin lama semakin individualis bukan konsep yang baru kemarin ditemukan. Tapi, bukan berarti kita berhenti bermimpi untuk satu komunitas yang lebih baik bukan?
Recent Posts
2 comments:
Jadi dari situ munculnya nickname ScoutFinch... :)
ahahahahahaha....
ketauan juga ternyata. ^^
Post a Comment